Menetapkan Hati, Merayakan Sukacita: 75 Tahun Panti Asuhan St. Yusuph, Sindanglaya

Sindanglaya, OFM—Bertempat di halaman sekolah Mardi Waluya, Sindanglaya, pada tanggal 19 Maret 2023, Panti Asuhan St. Yusuph merayakan Ekaristi ulang tahunnya yang ke-75. Bersama anak-anak panti dan tamu undangan, Panti Asuhan St. Yusuph mensyukuri penyertaan Tuhan selama tiga perempat abad pelayanannya terhadap kemanusiaan. Perayaan Ekaristi dirayakan dalam balutan tarian dan lagu-lagu inkulturatif budaya Sunda yang dibawakan seluruhnya oleh anak-anak panti. “Menetapkan hati, merayakan sukacita” (Mzm.16:8-11) menjadi tema perayaan syukur ini.

Perayaan Ekaristi secara daring dan luring ini dipimpin oleh RD Yohanes Suparta (Vikaris Jendral Keuskupan Bogor), didampingi oleh Sdr. Mikhael Peruhe OFM (Minister Provinsi), Sdr. Martin Kowe OFM (Direktur PA. St Yusuph), dan para imam konselebran. Dalam homilinya, Rm. Parto mengajak umat meneladani sikap iman Santo Yusuf. Meskipun berada dalam situasi sulit, Yusuf setia mendampingi Bunda Maria. Ia menjalankan kehendak Tuhan yang didengarnya dalam mimpi. “Jelas, iman memberi kekuatan bagi manusia dalam membuat keputusan atas hidup yang dijalani,” ungkapnya. Lebih lanjut Rm. Parto mengatakan bahwa iman mestinya menggerakkan kita untuk tidak hanya berpikir tentang kepentingan diri sendiri tetapi kepentingan sesama.

Perayaan Ekaristi 75 Tahun Panti Asuhan St. Yusuph, Sindanglaya dirayakan secara konselebrasi.

Direktur Panti Asuhan St. Yusup, Sdr Martinus Kowe OFM, dalam sambutannya di akhir misa menjelaskan,  “perayaan 75 tahun PA St. Yusup sejatinya terjadi pada 2022 yang lalu, akan tetapi (karena satu dan lain hal) baru dirayakan pada hari ini. Keluarga besar panti  mengisi (perayaan ulang tahun) dengan aneka macam kegiatan sebagai ungkapan syukur atas rahmat luar biasa dari Tuhan. Kami menetapkan hati, merayakan sukacita atas rahmat Tuhan itu.” Sdr. Martin juga tak lupa berterima kasih kepada para donatur yang telah membantu keberlangsungan panti. “Tuhan menyatakan kasih-Nya kepada kami dan anak-anak melalui Bapak-Ibu donatur. Semoga Bapak-Ibu donatur mendapat berkat melimpah dari Tuhan” ungkapnya.

Usai Perayaan Ekaristi, acara dilanjutkan dengan ramah tamah. Sejumlah atraksi seperti tarian, deklamasi puisi, dan nyanyian ditampilkan oleh anak-anak panti. Tarian Sulanjana (tarian Sunda yang menggambarkan seorang pahlawan yang melindungi rakyatnya dari marabahaya) juga dibawakan dengan apik. Tak lupa juga pemotongan nasi tumpeng sebagai ungkapan syukur.

Pemotongan nasi tumpeng oleh Rm. Yohanes Suparta, Vikjen Keuskupan Bogor, didampingi oleh Sdr. Martin Kowe, OFM, Direktur Panti Asuhan St. Yusuph, Sindanglaya.

Selain para donatur dan utusan pemerintah setempat, turut hadir sesepuh Desa Sindanglaya, KH Sofyan. Dalam sambutannya beliau menceritakan kedekatannya secara historis dan personal dengan Panti Asuhan St. Yusuph sejak dirinya masih kecil. Ia mengisahkan, bersama ayahnya dulu—seorang ulama terkenal di Desa Sindanglaya—ia selalu datang mengunjungi Pater van der Laan, OFM setiap hari Jumat dan mendapatkan suguhan istimewa berupa roti dan teh hangat. Sebaliknya, setiap Minggu, P. van der Lan datang mengunjungi keluarganya meskipun hanya disuguhi panganan seperti ubi dan jagung rebus. Beliau juga mengingatkanpara tamu undangan untuk tetap menghargai perbedaan dan mengembangkan iman dengan baik sehingga keharmonisan terjaga. “Jangan sebagai orang Islam ke Masjid tidak pernah, sebagai orang Katolik, hari Minggu ke Gereja saja tidak pernah, atau sebagai orang Hindu tidak ke Wihara,” imbuhnya.

Penanaman pohon, simbol syukur dan komitmen untuk menjaga alam ciptaan di kompleks Panti St. Yusuph Sindanglaya.

Minister Provinsi, Sdr. Mikhael Peruhe OFM, dalam sambutannya mewakili persaudaraan OFM Indonesia menyampaikan ucapan syukur atas perjalanan panti asuhan St. Yusuph hingga mencapai usia ke-75. Beliau menjelaskan spirit yang dihidupi oleh para misionaris Fransiskan awal di tataran Sunda yaitu, persaudaraan dengan semua orang dan keberpihakan pada yang miskin, lemah, dan terpinggirkan. Spirit ini juga yang menjiwai para Fransiskan dalam menjalankan pelayanan kemanusiaan di Panti Asuhan St. Yusuph, Sindanglaya.

“Para misionaris dari Belanda, hadir di tanah Sunda dengan spirit ini. Mereka menyapa semua orang sebagai saudara dan saudari dan sesuai spirit St. Fransiskus Assisi, memperhatikan orang-orang kecil, miskin dan terpinggirkan. Spirit persaudaraan dan keberpihakan ini tetap dirawat hingga saat ini, bersama dengan Keuskupan Bogor, para religius, para Suster SFS dan para donatur yang tidak pernah lelah untuk mendukung karya pelayanan bagi anak-anak di panti asuhan ini. Seperti St. Yusuf, seorang pekerja keras yang merawat Keluarga Kudus Nazareth dengan penuh kesetiaan dalam keheningan, demikian juga semua yang terlibat dalam karya panti asuhan ini, bekerja dalam keheningan. Semua dilakukan dengan penuh hati, tanpa dunia atau orang lain harus mengetahui apa yang telah anda lakukan. Tapi sebenarnya, andalah yang paling menentukan hidup mereka karena Tuhan mengutus Anda untuk memperlihatkan kemurahan hati Tuhan bagi anak-anak di panti asuhan ini.”

Pamungkas dari seluruh rangkaian acara adalah pembagian hadiah terhadap para pemenang perlombaan dan pertandingan yang telah diadakan selama setahun. Setelahnya ramah tamah berlanjut hingga acara benar-benar selesai.

 

Kontributor: Sdr. Jimmy Tnomat, OFM

Ed.: Sdr. Rio, OFM

Tinggalkan Komentar