ONGOING FORMATION DALAM HIDUP RELIGIUS (Sebuah Telaah Historis dan Doktrinal)

Ongoing formation sudah menjadi kosa kata yang lazim digunakan di kalangan para imam, biarawan dan biarawati. Tetapi seringkali penyebutan istilah ini tidak dibarengi dengan konsep dan pemahaman yang utuh. Dari segi waktu, misalnya, ongoing formation sering disalahartikan sebagai program pembinaan yang dimulai setelah seseorang mengucapkan profesi meriah. Dari segi kegiatan, tidak jarang ongoing formation hanya diidentikan dengan program peningkatan pengetahuan dan keterampilan.

Untuk menambah wawasan pengetahuan tentang ongoing formation, di sini kami menguraikan latar belakang historis istilah ongoing formation, pengintegrasian istilah ongoing formation ke dalam lingkungan gerejawi dan hidup religius, dan refleksi tentang ongoing formation dalam dokumen-dokumen hidup bakti. Tulisan ini dibuat dengan maksud agar kita semakin memahami bahwa ongoing formation merupakan sebuah proses pembinaan yang berlangsung selama seluruh hidup dan melibatkan semua dimensi hidup manusia.

Berawal di wilayah sekular

Dari segi historis, konsep “ongoing formation” merupakan perkembangan lebih lanjut dari apa yang disebut sebagai pendidikan untuk orang-orang dewasa (adult education). Terutama sejak abad ke-19 di beberapa negara Eropa, seperti Denmark, Inggris, Perancis dan Italia, muncul pelbagai macam asosiasi pendidikan populer (kerakyatan). Pada umumnya misi yang diemban asosiasi-asosiasi pendidikan ini adalah membantu orang-orang dewasa melengkapi pendidikan yang sudah diterima sebelumnya di bangku sekolah.

Urgensi pendidikan untuk orang-orang dewasa tidak terlepas dari perkembangan baru yang muncul pasca revolusi industri. Dengan revolusi industri, teknologi berkembang dengan sangat cepat dan terjadi banyak perubahan dalam mekanisme ekonomi. Cara-cara kerja lama mulai ditinggalkan. Lapangan pekerjaan menuntut keahlian-keahlian baru. Perkembangan-perkembangan ini mendorong orang untuk melakukan update pengetahuan dan keterampilan. Dari sini lahir pelbagai macam praktek pendidikan professional untuk orang-orang dewasa.

Setelah perang dunia kedua, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) mempromosikan pendidikan untuk orang-orang dewasa dalam Konferensi Internasional di Elsinor, Denmark pada 1949. Tetapi pada saat itu konsep pendidikan untuk orang-orang dewasa masih sangat miskin. Pendidikan untuk orang dewasa dirumuskan sebagai pelengkap untuk mengisi kekurangan-kekurangan yang terjadi dalam masa pendidikan di usia muda.

Perubahan signifikan dalam pemahaman tentang pendidikan untuk orang dewasa terjadi pada 1960. Dalam konferensi yang berlangsung di Montreal, UNESCO menempatkan pendidikan untuk orang-orang dewasa dalam konteks pendidikan yang berlangsung selama seluruh hidup (lifelong education). Pendidikan tidak boleh berakhir pada usia sekolah tetapi harus terus berlanjut di usia dewasa. Ini berarti pendidikan untuk orang-orang dewasa menjadi salah satu bagian dari keseluruhan proses pendidikan yang berlangsung selama hidup.

Apa yang tadinya dimulai dengan pendidikan populer atau kerakyatan kemudian berkembang menjadi pendidikan terus menerus. Dengan pendidikan terus menerus, perhatian utama bukan lagi untuk mendapatkan pengetahuan, memperoleh ijazah dan meraih gelar, tetapi pada kemampuan untuk terus belajar selama seluruh hidup (belajar untuk belajar). Pada 1970, UNESCO membuat pembedaan antara pendidikan terus menerus dan pendidikan untuk orang-orang dewasa. Aktivitas pendidikan setelah jenjang sekolah resmi dilakukan tidak saja untuk mengatasi kekurangan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga untuk mendukung kematangan pribadi

Pada 1971 sampai 1972 ada afirmasi tegas yang menyatakan bahwa pendidikan terus menerus harus menawarkan kepada semua manusia dari pelbagai jenis umur kesempatan dan sarana untuk mengembangkan kepribadian, membarui dan menyempurnakan pengetahuan dan meningkatkan partisipasi dalam kemajuan masyarakat. Dalam laporan yang dikenal sebagai Faure Report (1972) ditegaskan bahwa pembinaan manusia harus dilakukan secara total, sesuai dengan kemampuannya untuk mengembangkan diri secara terus menerus dalam seluruh dimensi hidup.

Jadi, ada lompatan besar dalam pemahaman tentang pendidikan terus menerus: dari pendidikan yang bersifat instrumental dan utilitaristik (mendapatkan pengetahuan dan memperoleh lapangan pekerjaan) menuju pada pemahaman yang lebih memperhatikan perkembangan global manusia.

Hidup manusia tidak lagi dibagi dalam tiga fase distinktif dan suksesif: masa belajar (masa untuk mendapatkan pengetahuan), kerja (masa untuk menghasilkan), dan pensiun (masa sitirahat dan persiapan menuju kematian). Ada kebutuhan untuk melakukan pembelajaran selama seluruh hidup, sehingga bisa menyesuaikan diri dalam dunia aktual.

Diadopsi ke dalam lingkup Gereja dan Hidup Religius

Gereja tidak mengabaikan konsep pendidikan yang berkembang di dunia sipil. Melalui Konsisli Vatikan II, Gereja menyadari bahwa umat kristiani sedang hidup dalam sebuah periode baru yang ditandai oleh perubahan yang begitu cepat. Karena itu, Gereja mengakomodir inisiatif-inisiatif baru yang muncul di dunia pendidikan.

Konsili Vatikan II berlangsung di tahun 60-an, periode dimana Konferensi Montreal, yang berbicara tentang pendidikan orang-orang dewasa, diadakan. Bekerjasama dengan beberapa gerakan pedagogis, Gereja mulai mengelaborasi jawaban yang cocok untuk menjawab pertanyaan tentang pendidikan manusia di tengah masyarakat yang terus berkembang. Dekrit tentang pendidikan katolik mengungkapkan keharusan untuk mengembangkan pendidikan yang cocok dengan keadaan dunia. Gereja menyadari bahwa pendidikan tidak bisa dipotong hanya pada beberapa dimensi dari individu, tetapi harus bersifat menyeluruh; tidak hanya diperuntukan bagi orang-orang tertentu, tetapi semua manusia; tidak dimaksudkan hanya untuk orang-orang dari sekelompok umur, tetapi menyangkut seluruh umur.

Pandangan Konsisli tentang pendidikan yang berkelanjutan juga diterapkan dalam bidang hidup religius. Hal itu dapat dilihat dalam arahan mengenai formasi hidup religius. Konsili menyerukan pertobatan dan pembaruan tidak saja bagi masing-masing pribadi tetapi juga seluruh institusi, mendorong institusi-institusi supaya kembali kepada Sumber Injil dan karisma awal dan menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan zaman. Hidup dalam semangat pembaruan itulah yang disebut dengan ongoing formation atau pembinaan terus menerus.

Dalam hidup religius sebelum Konsili, model pembinaan sering bercorak sekolah sentris atau seminari sentris. Formasi sering dimaknai sebagai aktivitas yang dilakukan pada tahap-tahap awal dari hidup manusia, yaitu pada masa remaja dan masa muda. Setelahnya, formasi dianggap selesai dan para religius memasuki masa kerja atau masa kerasulan.

Model ini kemudian mengalami krisis dan orang mulai mengembangkan formasi post-skolastik. Pada awalnya, formasi post-sklolastik ini dilaksanakan dengan melakukan penyegaran dan peningkatan pengetahuan. Dimana-mana muncul antusiasme besar untuk mengembangkan pelbagai kursus guna memperbaiki dan meningkatkan pengetahuan para religius.

Setelah beberapa tahun, muncul kesadaran bahwa masalah pembaruan dan penyesuaian hidup tidak cukup diselesaikan dengan peningkatan pengetahuan. Lembaga-lembaga religius perlu mengembangkan formasi yang memberi titik berat pada pribadi dan yang durasinya berlangsung selama seluruh hidup. Karena itu, di tahun 70 hingga 80 berkembang kesadaran bahwa pembaruan hidup religius berarti pembaruan pribadi religius dalam seluruh aspek kehidupannya. Ongoing formation dipahami sebagai proses penginternalisasian dan personalisasi hidup Kristus secara permanen.

Proses penginternalisasian tersebut sudah dimulai sejak masa bina awal dan berlanjut setelah seorang individu mengucapkan profesi kekal. Karena itu, dari segi waktu, tidak tepat menganggap ongoing formation sebagai proses pembinaan yang dimulai hanya setelah formasi awal atau ketika seseorang mencapai usia yang matang dan memiliki kemampuan untuk memperbarui dirinya secara permanen. Sejak tahap awal, formasi sudah berciri ongoing (berlangsung terus menerus, tanpa henti). Ongoing formation terdiri dari beberapa tahap pembelajaran dan masing-masing tahap berkontribusi bagi terbentuknya formasi yang lengkap dari setiap individu religius.

Ongoing Formation dalam Dokumen-dokumen Gereja untuk Hidup Religius

Perfectae Caritatis (PC) menandai munculnya perubahan perspektif dalam konsep formasi hidup religius. Dengan dokumen ini, formasi secara legitim dimaknai sebagai sebuah proses terus menerus. Walaupun dibagi ke dalam beberapa tahap, formasi merupakan sebuah proses tunggal yang berlangsung selama seluruh hidup:

“Selama seluruh hayatnya, para anggota harus berusaha menyempurnakan kebudayaan spiritual, ilmiah dan teknik ini dengan tekun. Para pemimpin hendaknya mengupayakan sedapat mungkin kesempatan, bantuan dan waktu untuk itu bagi mereka”  (PC 18).

Kata “proses” yang melekat pada pendidikan mengedepankan unsur “menjadi”, keutuhan seorang pribadi, gradualitas dalam perkembangan. Formasi merupakan sebuah proses yang terjadi “dari dalam”, bukan sebuah bentuk yang dipaksakan dari luar dan seragam untuk semua. Formasi adalah sebuah proses pematangan identitas, pengembangan kemampuan discernment dan medan pembelajaran inovatif.

Pada 1983, ongoing formation yang direkomendasikan Konsili menemukan bentuk yuridisnya dalam Hukum Gereja. Kanon 661 menyebutkan: “selama seluruh hidup para religius hendaknya dengan tekun melanjutkan pembinaan spiritual, doktrinal dan praktis; dan para superior hendaknya menyediakan sarana dan waktu untuk itu”.

Pada 1990, Kongregasi untuk Tarekat Hidup Bakti dan Serikat Hidup Apostolik, melalui dokumen Potissimum Institutioni (PI) memberi beberapa indikasi tentang ongoing formation. PI menggarisbawahi kewajiban setiap institusi religius untuk merencanakan dan merealisasikan program ongoing formation yang cocok bagi semua anggotanya. Program ini dikembangkan bukan hanya untuk mengupayakan pembinaan intelektual dan keterampilan, tetapi seluruh pribadi para religius, secara khusus aspek spiritual. Tujuannya adalah agar setiap religius dapat menghidupi penyerahan dirinya kepada Allah secara penuh.

Dokumen yang sama juga menjelaskan tentang alasan mendasar dari ongoing formation (PI 67). Sekurang-kurangnya, ada tiga alasan mengapa perlu ada ongoing formation. Pertama, ongoing formation terkait erat dengan fungsi khas hidup religius dalam Gereja. Para religius memegang peran karismatik dan eskatologis yang sangat signifikan dalam Gereja. Hal ini menuntut dari para religius perhatian khusus pada hidup Roh, baik dalam sejarah pribadi masing-masing orang maupun dalam harapan dan kecemasan orang-orang lain. Alasan kedua berkaitan erat dengan masa depan  iman kristiani dalam sebuah dunia yang berubah dengan sangat cepat. Alasan ketiga berkaitan dengan kehidupan institusi religius, secara khusus masa depan mereka yang tergantung pada formasi terus menerus dari para anggotanya.

Selain itu, dokumen ini juga menampilkan empat aspek yang menjadi isi global dari ongoing formation: hidup menurut Roh (spiritualitas); partisipasi dalam hidup Gereja menurut karisma institusi; penyegaran doktrinal dan professional; kesetiaan pada karisma (PI 68). Akhirnya, PI mengatur waktu-waktu khusus dari ongoing formation: peralihan dari pembinaan awal ke pengalaman pertama sesudah kaul kekal; periode setelah sepuluh tahun kaul kekal; usia kematangan penuh; periode ketika orang mengalami krisis-krisis serius; usia pensiun (PI 70).

Anjuran apostolic Vita Consecrata (VC) juga memuat beberapa penegasan tentang ongoing formation. Ongoing formation, menurut dokumen ini, merupakan “syarat hakiki dari kebaktian religius….Proses pembentukan tidak terbatas pada fase awal. Karena keterbatasan manusia, orang yang menjalankan hidup bakti tidak dapat mengklaim bahwa ia telah sepenuhnya mewujudnyatakan “ciptaan baru” yang, dalam setiap keadaan hidup, mencerminkan pikiran Kristus. Oleh karena itu, bina awal seharusnya berkaitan erat dengan bina lanjut, sehingga menciptakan kesiapan di pihak setiap orang untuk membiarkan diri mereka dibentuk setiap hari dalam kehidupan mereka (VC 69).

Penutup

Dari uraian di atas, ada tiga hal yang bisa kita garisbawahi. Pertama, ongoing formation muncul sebagai perkembangan dari pendidikan untuk orang-orang dewasa. Sempat diartikan sebagai program peningkatan pengetahuan dan keterampilan di kalangan orang-orang dewasa, ongoing formation kemudian dimaknai sebagai pendidikan yang berlangsung selama seluruh hidup dan bertujuan untuk mendukung kematangan pribadi.

Kedua, konsep ongoing formation diadopsi oleh Gereja dan diberi arti baru sebagai proses pertobatan dan pembaruan diri terus menerus (selama seluruh hidup). Pembaruan diri ini berciri unitaris, integral, multidimensional. Ongoing formation merupakan sebuah proses yang menjangkau pribadi sampai ke kedalamannya, melibatkan semua, berkaitan dengan intensi, motivasi, perasaan, afeksi, sikap dan tingkah laku, relasi dengan Allah, sesama manusia, komunitas kristiani dan dunia.

Ketiga, dokumen-dokumen Gereja yang berkaitan dengan hidup bakti sama-sama menekankan pentingnya ongoing formation sebagai bagian yang hakiki dari keberadaan para anggota hidup bakti. Eksistensi dan otentisitas dari institusi-institusi hidup religius sangat bergantung pada pembinaan terus menerus para anggotanya.

 

Sumber Bacaan

Cencini, Formazione Permenente: Ci Crediamo Davvero? Bologna, EDB, 2011.

Lorenzetto, Lineamenti Storici e Teorici dell’Educazione Permanente, Roma, Edizioni

            Studium, 1976.

C. de Souza, Ongoing Formation of Religious, dalam https://cmglobal.org/vincentiana-novus-

            en/files/downloads/2008_1_2/vt_2008_01_15_en.pdf

Gahungu, Formazione Permanente dei Presbiteri, Roma, LAS, 2008.

 

Sdr. Agustinus Laurentius Nggame, OFM

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *