Paus Fransiskus: Lima Makna Tahun Rahmat Bagi Bumi  

 

Menyambut perayaan Hari Doa Bagi Seluruh Ciptaan pada tanggal 1 September 2020, Paus Fransiskus mengirimkan pesan kepada umat Kristiani di seluruh dunia. Hari Doa Bagi Seluruh Ciptaan sekaligus menjadi pembukaan Masa Penciptaan yang dirayakan secara ekumenis sampai tanggal 4 Oktober 2020, tepat pada pesta St. Fransiskus dari Assisi yang dalam berbagai tradisi kekristenan menjadi patron lingkungan hidup. Terhadap tema yang diangkat pada Masa Penciptaan 2020, Jubilee of the Earth: New Rhythms, New Hope (Tahun Rahmat Bagi Bumi: Ritme Baru, Harapan Baru), Paus Fransiskus menyampaikan lima poin penting yang dapat diperhatikan umat kristiani dalam merayakan Masa Penciptaan. Pemulihan relasi dengan Pencipta dan alam ciptaan mendapatkan aksentuasi istimewa selama Masa Penciptaan.

Pertama, Tahun Rahmat bagi Bumi menjadi kesempatan istimewa untuk mengingat kembali panggilan asali segenap ciptaan di atas Bumi, yakni untuk hidup dan berkembang bersama dalam komunitas cinta kasih. Konsep komunitas menjadi penting karena pada dasarnya manusia hidup bersama dengan yang lain, baik dengan Allah, sesama manusia, maupun bersama segenap ciptaan dalam satu Bumi yang sama. Mengutip Laudato Si’ yang dikeluarkannya pada tahun 2015, Paus Fransiskus menekankan keterkaitan antarelemen kehidupan serta menganggap semua elemen tersebut sebagai saudara dan saudari yang saling menyokong kehidupan satu sama lain (LS. no. 92).

Kedua, tahun Yobel bagi Bumi menjadi kesempatan untuk kembali memulihkan relasi yang telah rusak dengan Pencipta dan segenap ciptaan. Langkah pertama dilakukan dengan memulihkan relasi dengan Allah Mahakasih. Pemulihan hubungan dengan segenap ciptaan tidak dapat dilakukan jika relasi dengan Pencipta belum diperbaiki. Selain itu, kaum miskin dan terpinggirkan mesti diberi perhatian dengan mengusahakan suatu hidup bersama yang saling mendukung dan melindungi satu sama lain. Masa Penciptaan ini menjadi waktu yang tepat untk membebaskan mereka yang menjadi korban perbudakan modern, termasuk di dalamnya korban human trafficking dan pekerja anak-anak.

Tahun Yobel ini menjadi momen manusia untuk kembali mendengarkan suara tanah, yang dalam bahasa Ibrani disebut Adamah, materi yang dipakai Allah untuk menciptakan manusia pertama, Adam. Jeritan ciptaan mengingatkan manusia untuk kembali kepada tempat sebenarnya sebagai bagian dari jejaring kehidupan, bukan tuan atas dunia. Berbagai bencana alam dan bencana ekologis yang terjadi, termasuk pandemi Covid-19, mengingatkan manusia akan kerakusan dan pola konsumsi yang ganas. Mendengarkan suara tanah berarti menaruh perhatian terhadap ritme alam. Mengutip St.Bonaventura, Paus Fransiskus menjelaskan alam diciptakan untuk menampakkan kemuliaan Allah dan membantu manusia menemukan Allah dalam alam ciptaan-Nya.

Ketiga, tahun Yobel berarti waktu yang tepat untuk beristirahat. Dalam Alkitab, Allah telah menetapkan hari Sabat sehingga tanah dan segenap ciptaan dapat beristirahat dan membaharui diri. Sayangnya, pola hidup manusia pada saat ini, melalui pola produksi dan konsumsi tanpa batas, telah mendorong Bumi melampaui batas-batasnya. Dalam caranya alam telah menjerit kesakitan: hutan menjadi gundul, tanah mengalami erosi, panen gagal, padang gurun bertambah luas, lautan menjadi asam, badai makin sering terjadi.

Masa Penciptaan menjadi momen bagi manusia untuk sejenak berhenti dari pekerjaannya dan membiarkan Bumi memulihkan dirinya. Paus Fransiskus menyatakan kemendesakan cara hidup yang adil dan berkelanjutan sehingga Bumi dapat memulihkan diri dalam caranya, cara hidup dimana manusia dapat terpuaskan dalam kecukupan hasil alam tanpa menghancurkan ekosistem kehidupan. Bagaimanapun juga, masa pandemi Covid-19 telah mengajarkan manusia untuk menemukan cara hidup yang lebih sederhana dan berkelanjutan. Nyata bahwa selama lockdown dan pengurangan aktivitas selama pandemi situasi Bumi menjadi lebih baik: kualitas udara dan air menjadi lebih baik, aneka satwa yang lama tidak terlihat kembali menampakkan diri, dan lain sebagainya.

Pandemi menjadi persimpangan bagi manusia dalam menentukan masa depan Bumi; mengubah aktivitas yang berlebihan dan menghancurkan untuk kembali menggali kearifan dan cara hidup yang mendukung kehidupan sekalian makhluk. Berbagai bentuk cara hidup perlu dievaluasi, misalnya soal penggunaan energi, pola konsumsi, dan model transportasi yang digunakan. Cara hidup dan model ekonomi yang membawa dampak merusak lingkungan serta merusak kehidupan harus ditinggalkan.

Keempat, Masa Penciptaan menjadi waktu tepat untuk memulihkan keharmonisan asali dengan segenap ciptaan dan dengan sesama. Masa Penciptaan menjadi saat tepat untuk mengembalikan relasi sosial yang adil, memulihkan kebebasan dan hak-hak kaum tertindas, serta menghapus utang-utang. Fakta penindasan terhadap belahan dunia selatan demi penjarahan sumber daya secara masal dan berakibat pada berbagai bentuk kerusakan ekologis tidak boleh dilupakan. Waktunya keadilan ditegakkan. Secara konret Paus Fransiskus meminta penghapusan utang bagi negara-negara miskin, mengingat akibat buruk yang mereka rasakan secara sosial-ekonomi selama pandemi Covid-19. Berbagai bentuk usaha menciptakan cara hidup yang adil dan berkelanjutan mesti dilakukan baik secara global maupun lokal, baik dari segi politik, kebijakan, maupun investasi ekonomi.

Selain mengusahakan pemulihan relasi antarmanusia, relasi dengan Bumi juga mesti dipulihkan. Manusia dewasa ini hidup di situasi darurat perubahan iklim. Peningkatan suhu di permukaan Bumi akan berdampak besar bagi keberlangsungan hidup manusia dan makhluk-makhluk lain. Kesepakatan Iklim Paris mesti disepakati agar suhu permukaan Bumi masih meungkinkan bagi segenap ciptaan. Solidaritas intra-generasi dan inter-generasi mutlak diperlukan mengingat Bumi bukan hanya milik generasi saat ini.

Tindakan pemulihan mesti dilakukan dengan berbekal pemahaman akan keadilan, memastikan bahwa mereka yang telah kehilangan ruang hidup selama beberapa generasi bisa memperolehnya kembali. Masyarakat adat mesti dilindungi dari berbagai modus operandi perusahaan terutama perusahaan-perusahaan multinasional yang pada kenyataanya “bertindak secara brutal di negara kurang berkembang dibandingkan di negaranya sendiri” (LS no. 51) melalui tindakan ekstraktif yang merusak. Diperlukan aturan, baik secara global maupun lokal, yang dapat mengontrol kerja perusahaan-perusahaan ini dan melindungi kelompok terdampak.

Kelima, Masa Penciptaan merupakan momen tepat untuk bersuka cita. Meskipun jeritan bumi dan kaum miskin kian nyaring, namun harapan tetap ada. Pada situasi krisis ini, karya Roh Kudus terlihat dalam individu atau kelompok di berbagai belahan dunia yang berjuang bersama untuk membangun kembali Bumi yang telah rusak dan melindungi kaum yang terpinggirkan. Berbagai gerakan muncul untuk membangun kembali dunia yang telah rusak. Kaum muda dan masyarakat adat menjadi pejuang garis depan bagi dunia yang lebih baik. Berbagai gerakan ini memberi keyakinan akan situasi yang lebih baik bisa diusahakan.

Tema Tahun Yobel ini juga bertepatan dengan perayaan lima tahun ensiklik Laudato Si’. Sejak diterbitkan, ensiklik Laudato Si’ telah menginspirasi banyak kelompok baik dalam tingkat lokal maupun tingkat global untuk peduli pada Bumi sebagai rumah bersama dan kepada kaum miskin sebagai kelompok yang paling menderita akibat kerusakan Bumi. Perayaan lima tahun ini mesti menjadi tonggak bagi berbagai elemen untuk menetapkan rencana jangka panjang dalam menegakkan ekologi integral. Masa Penciptaan juga menjadi bukti bahwa berbagai komunitas umat beriman dapat bekerja sama dalam merawat Bumi sebagai komunitas untuk semua ciptaan.

 

Disadur dari “MESSAGE OF HIS HOLINESS POPE FRANCIS FOR THE WORLD DAY OF PRAYER FOR THE CARE OF CREATION 1 SEPTEMBER 2020”

 

Sdr. Rio Edison, OFM

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *