Rekoleksi Bulanan: Memahami Pandemi Covid-19 Secara Bijak

Menjelang perayaan Natal, Komunitas Biara OFM St. Bonaventura (Bitora) mengadakan rekoleksi bersama (18/12/21). Rekoleksi terasa istimewa karena langsung dipimpin oleh Minister Provinsi, Sdr. Mikael Peruhe, OFM. Beliau tiba di Komunitas Bitora pada hari Jumat, 17 Desember 2021 bersama Sekretaris Provinsi, Sdr. Titus Angga Restuaji, OFM. Rekoleksi yang berlangsung sejak pukul 08:00 hingga 11:00 WIB ini dihadiri oleh seluruh anggota komunitas Bitora. Bertolak dari situasi pandemi Covid-19, Sdr. Mike membawakan rekoleksi dengan tema “Melihat, Memilih, dan Bertindak untuk Memperbaharui Misi: Menanggapi Undangan Roh Kudus di tengah Dunia dan Gereja.”

Time to See

Sebagai pembuka, Sdr. Mike mengulas pandangan Paus Fransiskus tentang pandemi Covid-19. Bagi Paus Fransiskus, pagebluk yang sedang melanda seluruh dunia ini menjadi momen untuk melihat (time to see) perubahan-perubahan besar yang sedang terjadi dalam dunia secara bijak. Covid-19 adalah krisis global di mana tidak ada satupun negara yang luput dari akibat yang ditimbulkannya. Saat ini, seluruh dunia adalah suatu komunitas global dalam satu “perahu” yang sedang menghadapi “badai” virus corona. Butuh kerja sama agar “perahu” tersebut tidak hancur diamuk “badai” pandemi.

Momen pandemi Covid-19 menyadarkan umat manusia tentang saling ketergantungan satu sama lain. Covid-19 bukan saja penyakit yang menyerang secara pribadi tetapi menjadi masalah bersama. Satu orang mendapat masalah, semua orang secara langsung mendapatkan pengaruhnya. Di sini, keselamatan sejati berciri inklusif: “no one is saved alone, we can only be saved together”.

 

Anggota Komunitas St. Bonaventura, Yogyakarta sedang mengikuti rekoleksi yang dibawakan oleh Sdr. Mike Peruhe, OFM

Menghormati Pengorbanan para Tenaga Kesehatan

Saudara Mikhael mengajak peserta rekoleksi untuk menaruh perhatian khusus pada para petugas kesehatan yang menjadi korban dalam perjuangan melawan pandemi, khususnya di Indonesia. Dilansir dari Kompas.com, sejak awal Maret 2020 sampai akhir Agustus 2021, sebanyak 1.967 tenaga kesehatan meninggal dunia akibat terpapar Covid-19. Mereka semua adalah pahlawan yang berjuang keras menekan jumlah kasus Covid-19 di Indonesia. Mereka melayani semua orang sampai harus mengorbankan nyawa.

Simpati dan doa yang tulus menjadi cara menghormati dan membalas kebaikan para tenaga kesehatan, terutama yang telah meninggal dunia. Prinsip pelayanan yang diterapkan para tenaga kesehatan (lebih baik mengalami hidup lebih pendek untuk melayani orang lain dari pada hidup lebih lama tetapi menolak panggilan untuk melayani sesama ) dapat menjadi inspirasi untuk semakin peduli pada sesama, khususnya mereka yang sedang menderita. Prinsip demikian menjadi semacam “antibodi” dalam melawan virus ketidakpedulian yang kini telah menjadi gejala mondial.

Inspirasi Bahtera Nabi Nuh

Sdr. Mike mengutarakan kisah bahtera Nabi Nuh (Kej. 6:9-7:1) sebagai inspirasi dalam memerangi pandemi. Saat ini, seluruh dunia sedang berada dalam “bahtera” layaknya bahtera Nabi Nuh yang menyatukan umat manusia dalam persaudaraan menuju keselamatan. Pada “bahtera” yang sama itu, manusia bekerja sama dan bersolider sehingga terbentuk harapan akan situasi dunia yang lebih baik. Perhatian pada kaum miskin⎯kelompok yang paling terdampak oleh pandemi⎯dan mengekang keinginan-keinginan yang egoistik seperti mengejar kekayaan materi merupakan jalan yang dapat ditempuh demi mencapai keselamatan bersama.

Pada bagian akhir rekoleksi, Sdr. Mike menekankan pentingnya iman yang teguh. Sebagaimana Yesus tidak meninggalkan para murid dalam perahu yang diterpa badai di tengah danau (Luk. 16:19-31), demikian pula iman Kristiani meyakini Yesus yang sama tidak meninggalkan umat manusia di tengah pandemi. Iman yang teguh itu juga menggerakkan umat Kristiani untuk peduli dan empati terhadap orang-orang yang mengalami kesulitan.

Kontributor:  Stevanus R. Gati Age (Postulan Yogyakarta)

Editor: Sdr. Rio Edison, OFM

Tinggalkan Komentar