Kami Datang Membawa Hati Tulus dan Penuh Cinta

Para Fransiskan-Fransiskanes yang tergabung dalam tim bantuan kemanusiaan untuk korban erupsi gunung Lewotobi Laki-Laki, diketuai oleh Sdr. Abba Lasar OFM (tengah)

Larantuka, OFM – Sebulan setelah erupsi gunung Lewotobi Laki-laki, pada tanggal, 3 Desember 2024, pemerintah daerah Larantuka dan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) serta BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) secara bertahap memulangkan warga yang tinggal di kamp-kamp pengungsian ke kampung masing-masing. Para pengungsi yang dipulangkan berasal dari kampung-kampung dalam radius lebih dari 7 km dari gunung Lewotobi laki-laki. Sementara para pengungsi yang berasal dari wilayah dengan radius kurang dari 7 km dari gunung Lewotobi Laki-laki mesti direlokasi. Sembari mempersiapkan tempat relokasi, pemerintah melalui BNPB membangun hunian sementara (huntara) di Konga, dengan ukuran 3x6m2 bagi masing-masing keluarga.

Menanggapi informasi tersebut, pada tanggal 6 Desember 2024,  Sdr. Abba OFM dan Sdr. Thobias OFM menjumpai para pengungsi yang berada di gedung SDK Lewolaga dan Gedung SMPN Lewolaga. Kunjungan pertama terjadi pada pagi hari bertempat di SDK Lewolaga. Warga yang ditampung di gedung sekolah dasar ini berjumlah 73 KK. Mereka berasal dari 2 desa yakni, desa Nura Belen dan desa Nawa Kote. Kedua desa tersebut akan direlokasi karena berada dalam radius bahaya yang telah ditetapkan. Sebelum direlokasi, pada tanggal 31 Desember 2024 mereka mesti berpindah ke ke huntara di Konga.

Sdr. Thobias mendengarkan aspirasi dan ungkapan hati para pengungsi. Melalui cara demikian, tim dapat mengetahui kondisi dan kebutuhan para pengungsi.

Dalam dialog tersebut, Sdr. Abba OFM selaku koordinator lapangan penanganan bencana menegaskan komitmen para Saudara Dina dan keluarga Fransiskan-Fransiskanes untuk tetap mendampingi para pengungsi hingga mereka menempati lokasi yang disiapkan pemerintah. “Kami tidak membawa harta berlimpah, tetapi hati yang tulus penuh cinta untuk bersama bapa dan mama semua membangun kembali kehidupan yang sempat berhenti,” ungkap Sdr. Abba OFM di hadapan para pengungsi.

Pada kesempatan ini  juga, Sdr. Abba OFM bercengkrama dengan anak-anak pengungsi. Pastor Paroki Kristus Raja Pagal ini menghibur anak-anak dengan mengajak mereka bermain dan menari. Semacam trauma healing sederhana bagi anak-anak yang telah meninggalkan aktivitas sekolah cukup lama. Sementara itu, Sdr. Thobias OFM mengajak warga untuk berdialog tentang kebutuhan para pengungsi pada masa transisi dan lanjutan. Perpindahan menuju huntara dilihat sebagai masa transisi bagi para pengungsi.

Sdr. Abba OFM bercengkerama dengan anak-anak. Pastoral ramah anak menjadi relevan dalam situasi seperti ini.

Pada sore hari, pukul 16.00 WITA, bersama tiga relawan muda dari Paroki Kurubhoko, Sdr. Thobias OFM melanjutkan dialog dengan para pengungsi di Gedung SMPN Lewolaga. Terdapat 174 KK (532 jiwa) di tempat ini. Seperti pengungsi yang berada di Gedung SD Lewolaga, mereka juga berasal dari  Desa Nura Belen dan Nawa Kote yang akan direlokasi oleh pemerintah pada akhir tahun 2024 ini.

Dalam dialog di dua tempat tersebut, para pengungsi menyampaikan kebutuhan mereka, baik kebutuhan materi maupun spiritual. Menjelang perayaan Natal, para pengungsi meminta pelayanan rohani berupa rekoleksi dan sakramen tobat. Permohonan ini sungguh menyentuh hati sebab di tengah-tengah situasi pengungsian, mereka masih memikirkan pertumbuhan iman mereka. Permohonan ini ditanggapi dengan cepat. Keesokan harinya (7/12/2024), Sdr. Thobias OFM dan Sdr. Abba OFM langsung melayani sakramen tobat bagi para pengungsi di Lewolaga. Rekoleksi dan persiapan rohani lainnya dalam rangka menyambut Natal langsung dimasukkan dalam agenda pendampingan selanjutnya.

Sdr. Thobias OFM sedang mendengarkan pengakuan dosa dari para pengungsi. Sungguh menjadi inspirasi bahwa inisiatif persiapan batin menjelang Natal datang dari para pengungsi sendiri. Kristus sungguh hadir di tempat ini!

Pelayanan rohani berlanjut ke hari berikutnya. Sdr. Abba OFM dan Sdr. Thobias OFM merayakan Hari Minggu Adven II (08/12/2024) bersama para pengungsi. Keduanya berbagi tugas merayakan ekaristi di Stasi Gerong dan Stasi Bokang. Bukan hanya pengungsi yang dilayani tetapi juga umat yang berada di sekitar wilayah pengungsian.

Selanjutnya, pada hari Senin (9/12), para pengungsi mulai mengikuti kegiatan skill upgrading. Didampingi para Saudara Dina dan Suster SFSC, para pengungsi — mulai dari anak-anak hingga orang tua — terlibat dalam kegiatan pelatihan pembuatan keset lantai, taplak meja, rosario, serta pangan lokal. Kegiatan pendampingan ini sekaligus menjadi cara mengisi waktu bagi para pengungsi.

Didampingi para Fransiskan dan Fransiskanes, para pengungsi mulai mengikuti kegiatan skill upgrading dengan belajar membuat taplak meja, keset, rosario, dan mengolah pangan lokal. Kegiatan ini sekaligus mengisi waktu selama masa pengungsian.

Secara umum, para pengungsi yang dilayani bekerja sebagai nelayan sekaligus petani. Selama masa pengungsian, secara diam-diam mereka tetap pergi berladang. Masa tanam telah tiba dan mereka mesti tetap menanam di ladang meskipun bahaya erupsi gunung Lewotobi Laki-laki membayangi. Kepada para Saudara Dina dan para Suster, mereka mengharapkan bantuan berupa bibit tanaman palawija seperti bibit kacang tanah, kacang panjang, bibit sayuran, serta bibit jagung.  Sebagai nelayan, mereka juga mengharapkan bantuan berupa peralatan tangkap ikan berupa pukat dan mesin motor untuk dipasang pada perahu mereka.

Anak-anak belajar membuat dan merangkai rosario. Bukan hanya melalui aneka permainan, kreativitas dan energi mereka juga dituangkan dalam aktivitas ini.

Proses pendampingan terhadap para pengungsi terus berlanjut. Setelah dialog , dilakukan pendataan terhadap kebutuhan para pengungsi. Pendataan difokuskan pada data-data kebutuhan yang akan dipakai oleh para pengungsi untuk pengembangan ekonomi sebagaimana diusulkan. Pendampingan rohani dan reksa pastoral terhadap para pengungsi juga menjadi perhatian utama para Saudara Dina dan tim relawan yang hadir di lokasi pengungsian.

Kontributor: Sdr. Thobias, OFM

Ed.: Sdr. Rio OFM

Tinggalkan Komentar