Kemiskinan: Fiksi Kesalehan Fransiskan (Indonesia)

sumber gambar: https://www.techofheart.com/2009/05/holy-poverty-of-st-francis-of-assisi.html

Di zaman ini, sulit bagi Fransiskan untuk tidur tanpa tilam, menghindar dari bed-bed empuk, tidak menggunakan high lux dan avansa untuk turnei, menolak untuk dibukakan pintu mobil walaupun itu tidak lebih dari Flunkies job suatu gabungan antara bullshit job dan shit job menurut istilah David Graeber (Britania Raya: 2018), bertahan dalam rumah tanpa menyalakan AC di panasnya Jakarta, menolak membangun gedong-gedong bertingkat dengan biaya miliaran rupiah. Sebab segalanya toh nyaris diperoleh dari kemurahan hati umat, dan Fransiskan tinggal pakai, tanpa perlu berpikir keras, apalagi berdiskusi.

Di hadapan segala kemurahan hati umat itu, kita dianjurkan untuk memakai aneka sumbangan itu dengan rasa syukur sembari tidak boleh lupa dengan penuh setia memelihara dan merawatnya. Itulah kesalehan Fransiskan. Suatu paham yang entah dibelokkan atau diperhalus untuk membaptis ketidakmampuan bertahan di situasi krisis, situasi serba kurang, situasi serba lesser, yang adalah prinsip fundamental kemiskinan Fransiskan.

Agar tidak terkesan lagak, seolah-olah paling setia dengan Kemiskinan, saya mau kembali ke omongan tentang solidaritas. Dulu, para saudara di Padua berdasarkan kapitel komunitas mau rekreasi ke Bali, tetapi dilarang keras karena mantra suci kita: Solider dengan saudara lain. Dan, semua tunduk patuh. Itu dulu, waktu Sdr. Eddy, Sdr. Peter dkk menjadi definitor. Entah sekarang, solidaritas kita mungkin sudah berpulang, diganti dengan jampi-jampi baru: menghargai kemurahan hati para donatur, nama lain bagi istilah mentereng baru sense of crisis, mengutip Sdr. Tauchen.

Tetapi, terlalu terlalu naif juga bila menolak segala bentuk perhatian umat, di tengah dunia yang serba mau menerima dengan tangan terbuka karya cinta kasih umat terhadap biarawan dan klerus, di tengah zaman yang serba maju-tertata (ordered and progress, mengikuti prinsip Auguste Comte) dan diatur oleh uang serta laba alih-alih oleh tradisi Fransiskan. Sehingga ketika ada yang menyumbang, kita tinggal terima dan bergerak sesuai dengan kehendak mereka, sebut saja intentio dantis, bahkan bila segalanya serba ‘sim sala bim’. Dan, kita masih bisa berbangga, toh kita masih Fransiskan mengikuti Fransiskus yang bukan organisator ulung, seorang poor administrator (Thompson: 2012), dengan segala keputusan yang menurut Sdr. Tauchen segalanya serba tiba-tiba.

Belum berumur lama rumah Padua yang dibangun bermiliaran itu, tiba-tiba akan diruntuhkan untuk dibangun lagi demi suatu sopan santun religius di hadapan monopoli donatur, sambil memperhatikan segala keruwetan tanggal jatuh tempo proyek dan IMB. Kita membuat semacam konformitas di hadapan ‘kemurahan hati orang’, di hadapan praktik-praktik komunitas lain yang serba menjulang gedong-gedongnya sementara umat masih hidup di barak-barak, di bebak dan petak-petak rumah sempit. Andakata kita sudah tidak miskin dari segi bangunan, atau gaya hidup, maka pulangkanlah solidaritas ke persaudaraan kita, ke dalam hati kita Fransiskan. Supaya minimal, kalau ada umat yang ragu untuk memakai sandal bila masuk rumah kita, kita pun wajib dengan rendah hati memintanya memakai sandal. Kalaupun ada umat yang berkunjung ke rumah kita yang serba elite itu, jangan ragu untuk menerima dan menyapanya sebagai saudara/i, sambil gesit menghidangkannya kopi atau teh.

Tetapi, kalau itu pun sudah hilang, masih ada satu pertanyaan tersisa: “Kita mengikuti Siapa?” Tuan Puteri Kemiskinan Suci yang di zaman ini tentu mantra itu tidak lebih dari suatu fiksi kesalehan saudara-saudara dina (Indonesia).

 

Sdr. Eras, OFM

 

Post navigation

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *