Sejarahwan Fransiskan, Fr.Luke Wadding (1588-1657) menulis bahwa dalam tahun 1442 terjadi penampakan Santa Perawan Maria di Assisi. Santa Maria menampakkan diri kepada seorang novis Fransiskan bernama Yakobus. Sejak kecil ia gemar merangkai bunga. Setiap hari ia merangkai mawar dan mempersembahkannya kepada Perawan Maria. Yakobus kemudian menjadi biarawan Fransiskan. Ketika menjadi Fransiskan, dia merasa tertekan karena kesempatan untuk mempersembahkan rangkaian bunganya semakin terbatas. Perawan Maria lalu menampakkan diri kepadanya, menenangkannya dan menunjukkan cara lain sebagai persembahan hariannya kepada Maria. Maria memintanya untuk mendoakan tujuh rangkaian peristiwa rosario setiap hari dan merenungkan tujuh peristiwa sukacita yang dialami Maria dalam hidupnya. Yakobus pun mulai devosi ini. Suatu hari Magister Novis melihatnya berdoa dan seorang malaikat bersamanya, merangkai sebuah mahkota mawar, menempatkan suatu bunga bakung emas di antara sepuluh bunga mawar. Ketika novis itu selesai berdoa, malaikat meletakkan mahkota di atasnya. Magister novis lalu bertanya kepada Sdr.Yakobus perihal penglihatan tersebut. Setelah mendengar penjelasannya, magister novis itu pun memberitahukannya kepada saudara-saudara lain dan segera setelahnya, devosi ini menyebar di antara keluarga Fransiskan.

Corona Fransiskan merupakan satu bentuk devosi kepada Maria yang menyatakan kesatuan dengan Kristus. Rosario (Fransiskan) adalah jalan masuk bersama Maria ke dalam misteri Kristus; doa dengan orientasi kristologis yang jelas. Dengannya kita diubah oleh dan di dalam Kristus. Kesatuan tersebut terungkap dalam tujuh peristiwa sukacita Maria, yakni 1) Maria menerima Kabar Sukacita, 2) Maria mengunjungi Elisabeth, 3) Kelahiran Yesus Kristus, 4) Persembahan Tiga Orang Majus, 5) Yesus ditemukan di Bait Allah, 6) Kebangkitan Yesus Kristus, 7) Maria dimahkotai di Surga.

Pertama, Maria menerima kabar dari Malaekat Tuhan. Kabar baik, warta keselamatan datang dari Allah. Maria menerima warta tersebut. Ia masuk ke dalam pengalaman akan Allah yang menyampaikan rencana keselamatan pada umat manusia. Seperti Maria, mistikus umumnya juga mengalami pengalaman luar biasa yakni perjumpaan dengan Allah, kunjungan dari Allah. Mereka mampu mendengar pesan atau juga melihat rupa Kristus. Kepada merekapun diberikan suatu pilihan untuk menjawab: iya atau tidak. Mistikus menyadari bahwa – seperti Maria – pengalaman akan Allah tidak hanya terbatas pada mendengarkan Allah tetapi juga menjawabNya.

Kedua, Maria mengunjungi Elisabet. Visitasi. Jawaban Maria pada Allah berpengaruh dan mengikutsertakan yang lain di dalamnya. Jawaban ketaatan Maria pada Allah punya dampak, pengaruh pada pribadi yang lain, yakni Elisabet. Maria mengunjungi Elisabet setelah mendengar warta malaekat dan mengetahui saudarinya mengandung pada masa tuanya. Tiga bulan lamanya Maria tinggal bersama Elisabet (Luk.1:56). Bisa kita bayangkan bahwa pada masa itu, Maria melayani  Elisabet. Pelayanan itu juga menyatakan dirinya (Maria) yang telah bersedia menjadi hamba Tuhan ketika ia menerima warta malaekat. Mereka (Maria dan Elisabet) menjadi pelayan satu sama lain. Tindakan Maria menjadi tanda pemakluman Sang Putra, sebab kelak Putranya mewartakan dan memberi kesaksian dalam tindakan perihal pelayanan serta kasih persaudaraan satu sama lain.

Ketiga, kelahiran Yesus. Inti Misteri kelahiran Allah di dalam kemiskinan, kesederhanaan tidak dapat dimengerti. Maria mengalami sukacita ilahi. Ia tidak mampu memahami misteri Allah yang lahir dalam kemiskinan, dan karena itu “Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya” (Luk.2:19). Mistikus dalam arti tertentu dilahirkan secara spiritual dalam perbuatan baik, kebaikan-kebaikan yang dinyatakan dalam tindakan hidup mereka.

Keempat, persembahan ketiga orang majus. Mistikus meniru, mengikuti sembah bakti ketiga orang majus secara simbolik ketika mereka mempersembahkan kelahiran baru diri mereka pada Allah. Mereka menyadari bahwa diri, hidup mereka bukan lagi milik mereka sendiri melainkan sepenuhnya adalah milik Allah.

Kelima, Yesus ditemukan di dalam bait Allah. Kisah Yesus ditemukan di dalam bait Allah mengandung kebenaran bahwa Allah memiliki rencana dan kehendakNya sendiri atas manusia. Tidak dari seorang manusia pun yang dapat mengatur kehendak Allah. Mistikus dapat secara lebih mengerti, memahami rencana serta mengalami Allah terutama setelah mereka mempersembahkan diri mereka. Allah dalam arti tertentu mengungkapkan kehadiranNya pada mereka. Dalam prosesnya, ada saat-saat tertentu, mistikus tinggal dalam ‘malam gelap’, krisis, atau serta merasakan sepertinya Allah tidak ada lagi untuk mereka. Mereka rindu akan Allah, tetapi kerinduan itu tak kunjung segera terwujud. Namun demikian, mereka menyadari campur tangan Allah, bahwa Ia sendirilah yang memimpin, menuntun, menemani mereka melalui malam gelap agar mereka dapat sungguh mengasihi Allah karena Allah sendiri. Karena itu, mistikus tetap terus menanti, dan dalam penantian itu, mereka mengisinya dengan doa dan amal kasih. Meskipun demikian, pengalaman tidak ada penghiburan, tidak ada sukacita tetap mereka rasakan sampai Allah sendiri mendapati, menjumpai, menemui mereka lagi. Saat itu, sukacita mereka diperbarui dan hati mereka dimurnikan dari egoisme.

Keenam, kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Gambaran sukacita kebangkitan Kristus telah dinyatakan terlebih dahulu melalui peristiwa transfigurasi. Ketika Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes mendaki ke atas sebuah gunung. Di situ Ia berubah rupa di hadapan mereka. Rupa Yesus berubah dan berkilauan dan tampaklah Musa dan Elia, menyampaikan maksud perjalanan Yesus ke Yerusalem. Ketiganya mencoba untuk mempertahankan pengalaman tersebut. Petrus kemudian ingin membangun tiga tenda bagi Yesus, Musa dan Elia. Akan tetapi, Lukas katakan bahwa Petrus tidak tahu apa yang ia katakan. Seketika pula, awan menutupi mereka. Para murid menjadi takut. Kemudian terdengarlah suara dari dalam awan itu, ”Inilah anakKu yang Kupilih, dengarkanlah Dia.” (bdk. Luk.9:28-36). Penampakan itu kemudian berakhir. Tinggal Yesus sendirian. Penglihatan itu berlalu. Kemudian Yesus memasuki Yerusalem dan menderita, mati, dan bangkit. Pengalaman serupa dialami dengan cara lain oleh para mistikus. Mereka mengalami penglihatan, mendengarkan suara Allah, serta yakin akan karya Allah tersebut. Dengan demikian, bagi mereka, pengalaman keseharian adalah pengalaman akan Allah. Pengalaman itu diangkat, dialami, dirasakan. Bagi orang biasa, pengalaman keseharian dapat terkesan biasa-biasa saja sehingga kemuliaan Allah tetap tersembunyi bagi mereka. Tidak demikian dengan mistikus. Bagi mereka, pengalaman keseharian dari waktu ke waktu adalah juga pengalaman yang memancarkan kemuliaan Allah.

Ketujuh, Maria naik dan dimahkotai di Surga. Seperti Maria dalam misteri terakhir ini, mistikus diasumsikan masuk ke surga dengan jiwa dan badan. Maksudnya adalah bahwa hanya dengan pengintegrasian jiwa dan badan kita dapat masuk dalam surga. Demi pengalaman akan Allah, orang dapat tergoda untuk mengutamakan jiwa dan merendahkan tubuhnya. Dengan itu, ia memisahkan apa yang telah Allah bentuk dalam satu pribadi. Manusia terdiri atas jiwa dan raga.  Ada mistikus yang melihat tubuh sebagai masalah, sumber dosa. Karena itu, mereka menghinakan tubuhnya untuk memiliki jiwa yang murni. Dalam arti tertentu, anggapan serta tindakan tersebut merupakan cara lain untuk mencoba berpegang pada kemauan sendiri. Kita mesti belajar dari Maria yang membiarkan serta terbuka terhadap kehendak Allah dalam dirinya. Maria dengan tabah membiarkan kehendak Allah terjadi atas dirinya bahkan ketika ia sendiri berhadapan dengan peristiwa-peristiwa hidup Sang Putera: melihat Yesus mati, mengalami kebangitanNya, serta melihat Puteranya naik ke surga. Maria dikatakan pula mengikuti ‘wasiat’ Yesus: tinggal bersama dengan Yohanes. Penobatan Maria sebagai Ratu Surga dan dunia mengungkapkan bentuk relasi yang benar antara kita dengan Allah; bahwa pemahkotaan kita terjadi dan diperoleh dalam perkawinan jiwa kita pada Allah seperti pada pengalaman ekstasis para mistikus. Penobatan kita terjadi di dalam perkawinan jiwa kita pada Allah sebagaimana yang dialami para mistikus. Mahkota para mistikus terletak dalam penyatuan, penyerahan jiwa mereka kepada Allah sendiri.

Sumber Bacaan:

Bodo, Murray. Mystics: Twelve Who Reveals God’s Love. Cincinnati, OH: Franiscan Media. 2007.

Paul VI. Apostolic Exhortation: Marialis Cultus.  Roma. 2 Februari 1974.

Sdr. Martin Kowe, OFM

Tinggalkan Komentar