Pertemuan FCAO 2023: Merayakan Persaudaraan, Memperkuat Kolaborasi

Para peserta Pertemuan FCAO (Franciscan Conference of Asia, Australia, and Oceania)

Bali―OFM, Bertempat di Hotel Jayakarta, Bali, sebanyak 52 Fransiskan perwakilan entitas persaudaraan di wilayah Asia, Australia, dan Oseania mengadakan pertemuan. Mereka adalah para Minister Provinsi, Kustos, Presiden Fundasi, Ekonom dan Asisten Ekonom, Presiden SAAOC (Southeast Asia, Australia, and Oceania Conference), Sdr. Mikael Peruhe, OFM, Presiden EAC (East Asia Conference), Sdr. Greg Redoblado, OFM, serta Sekretaris Animasi JPIC dan Sekretaris Formasi di dua konferensi. Turut hadir dalam pertemuan ini Ekonom General Ordo Saudara-Saudara Dina, Sdr. John Puodziunas, OFM dan Definitor General untuk Asia Sdr. John Wong, OFM.

Pertemuan yang menggabungkan dua konferensi (SAAOC dan EAC) serta berlangsung selama lima hari tersebut (1-5/05/2023) membicarakan beberapa poin terkait misi para Fransiskan di Asia, Australia, dan Oceania. Dua tema yang mencolok dalam pertemuan ini adalah Fraternal Economy dan kerja sama antarentitas demi kolaborasi misi yang lebih baik. Didapuk sebagai tuan rumah pertemuan, Sdr. Mike Peruhe, OFM yang mewakili para Saudara Dina di Provinsi St. Mikael Malaikat Agung, Indonesia, menyambut hangat kedatangan para peserta pertemuan. Cinderamata berupa kain tenun ikat khas pulau Rote dikalungkan kepada para peserta pertemuan sebagai ungkapan selamat datang.

Definitor General, Sdr. John Wong, OFM memberikan kata sambutan pada hari pertema pertemuan.

Setelah pengantar dari Definitor General dan Ekonom General serta laporan dari tiap entitas (Provinsi, Kustodi, dan Fundasi) disampaikan kepada forum, para peserta pertemuan dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama yang terdiri dari para ekonom dan asisten ekonom (prokurator) masing-masing entitas mengadakan pertemuan dengan Sdr. John Puodziunas, OFM. Sedangkan, kelompok kedua yang terdiri dari para Minister Provinsi, Kustos, dan Presiden Fundasi serta Sekretaris Animasi JPIC dan Sekretaris Formasi, mengadakan pertemuan dengan Definitor General, Sdr. John Wong, OFM.

Ekonomi Persaudaraan

Dalam pengantar dan sesi diskusi bersama seluruh peserta, Sdr. John Poudziunas, OFM memaparkan materinya perihal ekonomi bernuansa persaudaraan (fraternal economy). Saudara Dina asal Amerika Serikat ini mengawali presentasinya bukan dengan membahas teori ekonomi mutakhir ataupun statistik keuangan tetapi menjelaskan nilai-nilai spiritualitas Fransiskan dan Kristiani sebagai pedoman penggunaan uang bagi para Fransiskan.

Sdr. John Puodziunas, OFM, General Economo, menyampaikan materi tentang Fraternal Economy di hadapan para peserta pertemuan. “No money, no mission. No mission, dirty money,” ungkapnya

Pedoman tersebut tertuang dalam delapan nilai hakiki yang mesti selalu diperhatikan. Pertama, memandang uang dari perspektif rahmat (logic of gift). Segala sesuatu yang dimiliki para Saudara Dina―termasuk uang―adalah pemberian Allah. Oleh karena itu, para Saudara Dina mesti menempatkan diri sebagai penerima bukan pemilik dan menggunakannya dengan rasa syukur dan tanggung jawab.

Kedua, transparansi yang ditunjukkan melalui komitmen untuk mengedepankan kejujuran dan keterbukaan terhadap persaudaraan dan pihak lain (pendonor atau pemerintah) berkaitan dengan sumber dan penggunaan uang dalam hidup dan karya misi. Hal tersebut dapat ditunjukkan melalui laporan (keuangan) berkala yang dapat diketahui secara publik. “No money, no mission. No mission, dirty money,” ungkapnya dalam menjelaskan kaitan antara kebutuhan finansial dan misi para Saudara Dina serta pertanggungjawabannya.

Ketiga, akuntabilitas yang berkaitan dengan tanggung jawab dan komitmen untuk menggunakan sumber daya secara tepat guna dan efisien serta sesuai dengan misi yang dijalankan. Keempat, keadilan yang tampak dalam kemampuan untuk melakukan pembedaan antara kebutuhan dan kemampuan (memenuhi kebutuhan itu). Perhatian terhadap saudara lain atau karya misi lain yang tidak mampu memenuhi kebutuhannya sendiri (membutuhkan sokongan) juga merupakan wujud keadilan.

Kelima, kesederhanaan yang berarti menjalani hidup dengan menggunakan sumber daya yang dibutuhkan saja.  Setiap saudara perlu berkata cukup serta menghindari tendensi atau kecenderungan menumpuk sumber daya. Keenam, kerja yang merupakan nilai penting dalam kharisma Fransiskan. Setiap saudara mesti bekerja guna memenuhi kebutuhan hidupnya (dan hidup bersama). Lebih jauh, kerja juga bermakna realisasi diri dan martabat kita sebagai manusia.

Ketujuh, nilai pengorbanan yang tampak pada kesadaran bahwa seorang Saudara Dina adalah bagian integral dari kelompok para pengikut Kristus (baca:tarekat OFM). Oleh karena itu, misi yang dijalankan bukan atas nama pribadi tetapi merupakan bagian dari suatu misi bersama. Setiap saudara perlu menyadari kehadirannya sebagai bagian dari misi bersama tersebut. Kedelapan, relasi sebagai pusat dari nilai-nilai yang lain. Seorang Saudara Dina tidak hidup dan berkarya sendirian tetapi ada dalam suatu “proyek kehidupan” bersama yang lain. Oleh karena itu, perlunya membangun relasi, kerja sama, serta kolaborasi dengan yang lain.

Sharing pengalaman dan diskusi terkait kondisi finansial di antara para ekonom dan asisten ekonom dari setiap entitas.

Sebagai contoh konkret aplikasi nilai-nilai fraternal economy, Sdr. John Puodziunas, OFM menunjukkan langkah-langkah yang telah dilakukan Curia Generalat―terutama sejak krisis keuangan yang mendera. Ia menunjukkan dan menjelaskan laporan keuangan Curia selama beberapa tahun terakhir. Beliau mengajak para ekonom dan asisten ekonom untuk memperhatikan dua aspek penting dalam penggunaan uang untuk misi dan hidup para Saudara Dina, yaitu perencanaan anggaran (budgeting) dan pelaporan keuangan secara berkala. Selain itu, beliau juga menyarankan sistem keuangan terpusat bagi masing-masing entitas. “Ada nilai dibalik sistem keuangan terpusat ini, yakni sentralisasi kekuatan dan rasa persaudaraan, ungkapnya.

Sebagai perwujudan nilai keadilan, di hadapan para peserta sidang, Sdr. John menawarkan proposal kontribusi sukarela (voluntary contribution) dari masing-masing entitas kepada Curia (baca: misi-misi yang ditangani oleh Curia) yang diberikan secara berkala. Proposal tersebut menjadi bahan diskusi lanjutan para peserta sidang, baik para ekonom dan asisten ekonom serta para pelayan entitas.

Kolaborasi memperkuat Misi

Pada bagian lain, pertemuan Definitor General, Sdr. John Wong, OFM dan para pelayan entitas persaudaraan membicarakan beberapa poin penting terkait misi dan cara hidup para Fransiskan di kawasan Asia, Australia, dan Oseania. Sejumlah resolusi penting dihasilkan dari pertemuan ini. Pertama, perlunya kursus formator regional. Sekretaris Formasi  dari kedua konferensi (SAAOC dan EAC) akan mengajukan proposal kegiatan kursus bersama bagi para formator pendidikan.

Sesi pertemuan para pelayan entitas (Minister Provinsi, Kustos, dan Presiden Fundasi) dengan Definitor General, Sdr. John Wong, OFM guna membahas sejumlah poin penting terkait misi dan kerja sama antar entitas

Kedua, terkait kolaborasi formasi inisial. Konferensi (SAAOC dan EAC) memutuskan akan mengadakan pertemuan virtual para formandi serta pertukaran Saudara Muda dari kedua konferensi untuk mengembangkan misi ad gentes. Ketiga, terkait pertemuan para Saudara Bruder (lay brothers).  Perlunya mengadakan pertemuan para Saudara Bruder pada tingkat konferensi dan tingkat internasional. Keempat, misi di Papua New Guinea (PNG). Komisi misi dan evangelisasi di masing-masing konferensi mesti mengadakan animasi dalam bidang adiministrasi, leadership dan formasi sebagai pembekalan terhadap para Saudara Dina yang akan bermisi ke PNG.

Kelima, Pertemuan FCAO berikutnya akan berlangsung di Manila, Filipina pada tanggal 7-13 April 2024. Keenam, terkait kontribusi sukarela, presiden kedua konferensi (EAC dan SAAOC) akan melaporkan hasil kesepakatan kontribusi dari setiap entitas pada pertemuan bulan Mei di Roma. Ketujuh, terkait kolaborasi finasial dan formasi. Konferensi SAAOC dan EAC memutuskan agar setiap ekonom dari kedua konferensi mengadakan pertemuan berkala guna saling berbagi pengalaman dan membangun kerja sama.

Berfoto bersama di depan Gerbang Istana Raja di Taman Bayun, Mengwi-Bali. Para peserta mendapat kesempatan untuk mengunjungi sejumlah tempat wisata ikonik di Bali.

Di sela-sela pertemuan yang intens para peserta mendapatkan kesempatan untuk mengenal khazanah tradisi dan kebudayaan Bali. Pada hari ketiga pertemuan, diadakan kegiatan tatap muka dan dialog keagamaan dengan pemuka agama Hindu, Bapak I Nyoman Kenak. Pada hari keempat para peserta mengunjungi sejumlah tempat ikonik di Bali seperti Pura Tanah Lot, Pura Danau Beratan-Bedugul dan Pura Taman Ayun. Pada malam hari, berbalut busana adat Bali, para peserta mengadakan acara cultural night. Sejumlah atraksi khas Bali ditampilkan seperti tarian barong. Melalui kegiatan tersebut, rasa persaudaraan antarpeserta sidang dapat terbangun selain, tentu saja, menunjukkan pada para Saudara Dina dari berbagai entitas tersebut perihal kekayaan budaya dan tradisi di Indonesia. Seluruh pertemuan ditutup dalam misa bersama yang dipimpin oleh Presiden EAC, Sdr. Greg Redoblado, OFM.

 

Kontributor: Sdr. Marciano A. Soares, OFM

Ed.: Sdr. Rio, OFM

Tinggalkan Komentar