“Menghidupi Karisma, Persekutuan, dan Misi Fransiskan di tengah Perubahan Dunia”
Bogor, OFM – Sidang Provinsi memasuki hari ketiga (23/09). Para kapitularis mengawali hari dengan Ibadat Pagi dan Perayaan Ekaristi bersama. Kegiatan doa ini dimulai pada pukul 06.00 WIB serta dipimpin oleh Sdr. Oki Dwihatmanto, OFM dan Sdr. FX. Sutarja, OFM untuk Ibadat Pagi dan Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Sdr. Philipus Adi Sulistyo, OFM. Selama sepekan, para kapitularis dibagi dalam kelompok-kelompok kecil guna mengurus kegiatan doa setiap harinya. Pada hari ini, bertepatan dengan peringatan wajib St. Pio dari Pietrelcina, Sdr. Philip OFM memohonkan rahmat jalinan tali persaudaraan yang semakin erat selama Sidang Provinsi dalam doa singkatnya.
Sebagaimana sehari sebelumnya, sesi pertama sidang dimulai pada pukul 08.00 WIB. Sebelum memasuki menu inti sidang, para saudara disuguhkan refleksi kilas balik terhadap dinamika sehari sebelumnya. Refleksi dihidangkan oleh tim refleksi. Pada kesempatan ini, Sdr. Albertus Purnomo OFM menjadi penghidang pokok-pokok refleksi. Beliau mengulas kembali aspek humilitas yang dimiliki oleh St. Fransiskus Asisi sebagai role model bagi setiap Fransiskan. Beliau juga mengingatkan para kapitularis perihal penyelenggaraan Sidang Provinsi 2025 bertepatan dengan perayaan 800 tahun Kidung Segenap Ciptaan sehingga para kapitularis perlu mengikuti sidang dalam semangat persaudaraan dan minoritas yang juga erat kaitannya dengan semangat ekologi.

Sdr. Purnomo OFM sedang menyajikan refleksi kilas balik.
Setelah mendengarkan kilas balik, para saudara memasuki agenda penting, yakni menyimak laporan yang dibacakan oleh Sdr. Kons Bahang, OFM selaku Visitator General. Beliau membacakan hasil visitasi yang telah beliau lakukan di berbagai komunitas dan tempat karya persaudaraan di Provinsi St. Michael Malaikat Agung Indonesia dan Fundasi St. Antonio de Lisboa, Timor Leste. Setelah Sdr. Kons membacakan laporannya, para peserta sidang diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan informatif kepada Sdr. Kons OFM guna meminta penjelasan perihal sejumlah hal.
Keseluruhan sesi pertemuan dalam sidang ini dimoderatori oleh Sdr. Wilhelmus Ireneus Gonsalit Saur OFM. “Saya adalah anak kandung provinsi ini yang diutus ke Papua pada tahun 1994. Sejak itu, saya belum kembali,” ungkap Sdr. Gonsa OFM sebelum memfasilitasi sidang yang disambut dengan gelak tawa para peserta. Sdr. Gonsa OFM diminta oleh provinsi untuk menjadi moderator dalam sidang ini.

Sdr. Gonsa Saur OFM bertindak sebagai moderator dalam sidang provinsi. Beliau bertugas mengatur alur pembicaraan dalam sesi pertemuan sidang.
Sesi kedua dilanjutkan dengan pembacaan laporan pertanggung jawaban Sdr. Mikael Peruhe, OFM. Beliau menyampaikankan laporan kinerjanya bersama dengan perangkat provinsi yakni para definitor dan dewan pengurus harian provinsi selama delapan tahun terakhir dengan penekanan pada upaya merealisasikan mandat Sidang Provinsi 2019 dan Sidang Provinsi 2022. Pada akhir pembacaan laporannya, seraya menyertakan refleksi singkat, beliau juga menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan yang terjadi selama masa pelayanan beliau sebagai Minister Provinsi. Sesi kedua ditutup dengan Ibadat Siang bersama dan makan siang bersama.
Pada sela-sela pertemuan, terutama waktu jeda setelah makan siang, para peserta berkumpul guna berbincang-bincang ataupun berjalan santai mengelilingi komplek Wisma Kinasih. Ini menjadi kesempatan bagi para saudara untuk merayakan perjumpaan dan berbagi cerita perihal hidup dan karya pelayanan masing-masing. Ini merupakan suatu bentuk perayaan persaudaraan yang organik dan alamiah khas fransiskan.

Sdr. Iron Rupa OFM, salah satu peserta sidang sedang mengajukan pertanyaan dalam sesi tanya jawab.
Pada sore hari, tepatnya pukul 16.30 WIB, para peserta berkumpul kembali di ruang rapat untuk melanjutkan sesi tanya jawab sebagai tanggapan terhadap laporan Visitator General dan Minister Provinsi. Para peserta tampak antusias untuk bertanya dan berkomentar. Sesi tanya jawab kemudian ditutup dengan doa Malaikat Tuhan yang dilanjutkan dengan Ibadat Sore. Setelah makan malam, seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan Completorium. Sebagian saudara memilih beristirahat, sebagian lagi masih melanjutkan kegiatan dengan rekreasi bersama dan bincang-bincang ringan .
Kontributor: Sdr. Carlo OFM
Ed.: Sdr. Rio OFM

Tinggalkan Komentar