Visitasi Persaudaraan dan Gawai Dayak Kristiani: Momen Formasi Pastoral

Foto bersama DPH Paroki St. Montfort Badau dan Paroki St. Paulus Nanga Kantuk serta kaum muda di depan Gereja St. Montfort Badau.

Nanga Kantuk, OFM ― Menjelang akhir bulan Mei, Gardianat Foligno mendapatkan visitasi persaudaraan (23-25/05/2024). Melalui rute Jakarta – Kuching, Malaysia – Badau, Minister Provinsi, Sdr. Mikhael Peruhe OFM, Dewan Penginjilan dan Misi, Sdr. Mateus Batubara OFM, dan Dewan Pendidikan, Sdr. Titus Angga Restuaji, OFM tiba di Badau. Meski sedikit melipir ke Negeri Jiran, rute perjalanan ini dinilai lebih cepat dan ekonomis  dibandingkan dengan rute lain.

Sehari sebelumnya (22/05), menggunakan mobil carteran, Sdr. Hendra OFM meluncur ke Kuching untuk menjemput ketiga saudara. Menginap semalam, rombongan menuju Badau pada pukul 08.00 waktu Malaysia pada hari berikutnya (23/05). Perjalanan Kuching-Badau ditempuh sekitar 6-7 jam. Di Badau, Sdr. Eras, Sdr. Leon, dan Sdr. Charles telah menanti. Pukul 15.00 WIB, rombongan tiba di Pastoran St. Montfort, Badau.

Sejenak melepas lelah, rombongan menikmati sesi ngopi sore. Sesi ngopi sore diisi dengan sharing pengalaman pelayanan para saudara di Badau dan Nanga Kantuk. Santai tetapi cukup memberi gambaran singkat tentang kehadiran para Saudara Dina di antara umat Katolik Dayak Iban dan Dayak Kantuk. Selepas makan malam, acara dilanjutkan dengan rekreasi bersama. Kali ini, Minister Provinsi serta Sdr. Mateus dan Sdr. Titus membagikan remah-remah kisah persaudaraan di seluruh Nusantara dan Timor Leste.

Lima Tugas Gereja

Pada hari berikutnya (24/05), agenda acara beralih pada pertemuan dan sharing bersama Dewan Pengurus Harian (DPH) dari Paroki St. Montfort Badau dan Paroki St. Paulus Nanga Kantuk. Sdr. Titus memantik sharing dengan materi perihal lima tugas Gereja (kerygma, martyria, koinonia, diakonia, liturgy). Sdr. Titus mengajak para peserta pertemuan untuk meninjau kembali karya dan pelayanan di paroki, sejauh mana kelima tugas Gereja itu diwujudkan dalam pelayanan pastoral paroki.

Melalui kehadiran para Fransiskan,  lima tugas tersebut perlahan dikembangkan, meski disadari bahwa katekese perihal sakramen masih sangat dibutuhkan. Kentalnya adat-istiadat menjadi tantangan tersendiri dalam penghayatan sakramen di kalangan umat. Misalnya, perkawinan yang lebih mengutamakan ritus adat dibandingkan liturgi Katolik. Hal tersebut berdampak pada maraknya pernikahan di bawah umur. Perihal konsep iman kehidupan setelah kematian yang mesti senantiasa dijelaskan sehingga umat terdorong untuk mendoakan keselamatan jiwa mereka yang telah meninggal, dan lain sebagainya.Pertemuan ditutup dengan makan siang bersama sekaligus merayakan ulang tahun Sdr. Eras yang ke-36.

Pertemuan bersama DPH dari Paroki Badau dan Nanga Kantuk di Pastoran Paroki Badau. Tampak pelayan Gardianat Foligno, Sdr. Leon Hambur OFM sedang berbicara.

Saudara Dina dan Dunia Digital

Pertemuan berlanjut pada sore hari. Kali ini, di hadapan empat saudara, Sdr. Mateus menyajikan materi perihal kehadiran para Saudara Dina dalam dunia digital. Beliau mengajak para saudara untuk berani mewartakan Injil di media sosial. Agar dapat menjadi pewarta, baik dalam dunia nyata maupun virtual, beliau menekankan tiga karakteristik  yang mesti dimiliki oleh pewarta, yaitu, kemampuan mendengarkan, berjalan bersama, dan menjadi saksi.

Berhadapan dengan karakteristik media sosial, dalam sesi sharing, Sdr. Mike mengajak para saudara untuk mengutamakan perjumpaan langsung. Perjumpaan langsung yang mencirikan persaudaraan, perjumpaan dari hati ke hati yang membuat saudara lain tetap merasa disapa, serta tidak terasing satu sama lain karena kesibukan di media daring.

Sukacita Persaudaraan

Acara pada tanggal 25 Mei diisi dengan dua agenda utama. Pertama, sharing gardianat dan dinamika persaudaraan. Kedua, perayaan Gawai Dayak Kristiani I. Para Saudara di Gardianat Foligno, dalam keterbatasan yang dialami menjadikan perutusan ke bumi Borneo sebagai sebuah jalan syukur. Syukur atas perutusan meskipun di tempat yang sama sekali baru.

Perjumpaan dengan masyarakat suku Dayak Iban dan Dayak Kantuk menjadi suatu bentuk formasi lanjutan bagi para saudara. Kultur egaliter yang terjalin pada masyarakat Dayak Iban dan Kantuk memungkinkan para saudara menjalin persaudaraan  inklusif, belajar kerendahan hati, serta tidak menuntut untuk dihormati. Kultur egaliter itu juga perlahan menjiwai kedua komunitas di Badau dan Nanga Kantuk. Para saudara memupuk rasa saling percaya, hidup dalam kerendahan hati, serta belajar untuk saling mengampuni.

Hal tersebut menjadi humus atau modal dasar dalam menghidupi persaudaraan yang dapat terarah pada sukacita. Paroki Badau dengan 18 stasi dan 4 lingkungan di pusat paroki, Paroki Nanga Kantuk dengan 36 stasi dan 6 lingkungan di pusat paroki sekaligus menjadi tepat menabur nilai-nilai Injil dan menemukan sukacita persaudaraan.

Gawai Dayak Kristiani I

Visitasi kali ini bertepatan dengan hajatan Gawai Dayak Kristiani I di Paroki St. Paulus Nanga Kantuk. Pada pukul 14.00, Sdr. Eras mengantar tiga saudara ke Nanga Kantuk. Sementara itu, Sdr. Leon dan Sdr. Charles mendahului untuk persiapan penyambutan rombongan Minister Provinsi.

Pukul 15.00 rombongan Minister Provinsi tiba di Nanga Kantuk dan disambut dengan acara adat bealu-alu, ritual penyambutan tamu khas Iban dan Kantuk. Setelah penyambutan diadakan ramah tamah singkat dengan tokoh umat, tokoh adat dan pemerintah Kecamatan Empanang dan Desa Nanga Kantuk. Selepas makan malam  para saudara disuguhkan pentas seni berupa tarian berladang dari anak-anak SEKAMI Paroki St. Paulus Nanga Kantuk.

Penyambutan rombongan Minister Provinsi di Gereja St. Paulus Nanga Kantuk secara adat.

Adapun Gawai Kristiani ini digagas sebagai perwujudan amanat Kapitel perihal pastoral budaya serta sebagai ungkapan syukur penyertaan Tuhan sepanjang tahun  bagi Paroki St. Paulus Nanga Kantuk. Selain itu, acara ini sekaligus membuka seluruh Gawai Kampung di seluruh wilayah Paroki St. Paulus Nanga Kantuk yang berlangsung mulai akhir bulan Mei hingga bulan Juli. Gawai menjadi ajang untuk meningkatkan persaudaraan di antara umat yang tersebar di 36 stasi serta meningkatkan sense of belonging umat terhadap paroki St. Paulus Nanga Kantuk. Gawai sendiri merupakan rangkaian upacara syukur khas masyarakat Dayak yang telah dijalankan secara turun-temurun.

Gawai  pertama mengambil tema Natal: “Kemuliaan Bagi Allah dan Damai Sejahtera di Bumi”. Tema ini menjadi fokus perhatian paroki dalam perjalanan setahun ke depan. Lantas, gawai sekaligus membuka peta jalan satu tahun yang akan datang. Adapun fokus perhatian itu dijabarkan dalam tiga sub tema, yaitu 1. Mewujudkan kemuliaan Allah dan Damai sejahtera di bumi dengan meningkatkan relasi kepada Tuhan. 2. Mewujudkan kemuliaan Allah dan Damai sejahtera di bumi dengan meningkatkan relasi kepada sesama. 3. Mewujudkan kemuliaan Allah dan Damai sejahtera di bumi dengan meningkatkan relasi kepada lingkungan hidup.

Suasana acara Gawai Dayak Kristiani

Pada hari puncak gawai (26/05), acara diawali dengan bealu-alu penyambutan umat dari stasi,  dilanjutkan dengan Bedarak atau doa-doa adat kepada Petara (Tuhan Allah) untuk perjalanan paroki dari dua sub Suku Iban dan Kantuk. Bedarak ditandai dengan  ritual bebiau (pemberkatan secara adat) menggunakan ayam jantan sebagai sarana persembahan kepada Petara.

Selesai acara adat, acara berlanjut dan berpuncak pada Perayaan Ekaristi syukur. Berbalut busana adat, umat Paroki Nanga kantuk merayakan Ekaristi secara meriah. Perayaan Ekaristi dirayakan secara konselebrasi. Minister Provinsi menjadi selebran utama sementara Sdr. Mateus menyampaikan homili. Dalam homilinya, Sdr. Mateus menguraikan hubungan antara hubungan antara Gawai Dayak Kristiani dan Hari Raya Tritunggal Mahakudus yang dirayakan bersamaan. Relasi kasih antara Allah dan manusia menjadi titik temu antara perayaan adat dan iman Kristiani.

Berfoto bersama seusai Perayaan Ekaristi. Ekaristi menjadi puncak dari rangkaian acara Gawai Dayak Kristiani I.

Seusai Perayaan Ekaristi, acara dilanjutkan dengan resepsi bersama dengan umat. Resepsi diisi dengan acara makan bersama, permainan adat, serta rekreasi. Pukul 15.30, rombongan Minister Provinsi bertolak kembali ke Badau. Mengikuti rute awal, pada tanggal 27 Mei, rombongan  kembali ke Jakarta. Visitasi dan perjumpaan persaudaraan di Badau dan Nanga Kantuk menjadi dukungan dan peneguhan para para saudara yang berkarya di tanah Kalimantan, khususnya di tapal batas Indonesia-Malaysia.

Kontributor: Sdr. Charles OFM

Ed.: Sdr. Rio OFM

Tinggalkan Komentar