Sembilan Kelas Spiritualitas St. Fransiskus Assisi

Semangat St. Fransiskus Assisi itu bagaikan sebuah ‘sekolah’. Seorang anak yang hendak memasuki sekolah itu perlu memiliki hasrat dan kerinduan dalam diri. Kami menyebutnya sebagai sukacita. Begitu ia memasuki lingkungan sekolah, ia akan melewati gerbang dengan dua pilar, yakni fraternitas dan minoritas. Dalam sekolah itu ia akan memasuki sembilan kelas yang menawarkan nilai-nilai atau spirit St. Fransiskus dari Assisi. Kelas-kelas ini tidak hendak mereduksi kekayaan spirit St. Fransiskus. Dapat saja akan lebih banyak kelas lagi, jika anak tersebut ingin sungguh menimba ilmu. Jika ia berhasil mempelajari semua nilai itu, ia akan menamatkan sekolah tersebut dengan sebuah gelar, yakni orang kudus.

A. Awal Mula adalah Sukacita

“Dengan sukacita Fransiskus berkata: “hendaklah kamu kuat, saudara-saudara terkasih, bersukacitalah dalam Tuhan; janganlah berdukacita karena kamu sedikit jumlahmu; dan janganlah kesederhanaanku dan kesederhanaanmu mengejutkan kamu, sebab sebagaimana telah ditunjukkan Tuhan kepadaku, dengan sesungguhnya Allah akan membuat kita berkembang menjadi jumlah yang amat besar dan menyebarkan kita dalam jumlah yang besar sampai ke ujung bumi…”[i]

St. Fransiskus Assisi lahir pada suatu situasi yang membutuhkan perbaikan, baik itu internal Gereja maupun tatanan sosial di sekitarnya. Kehadirannya, dengan spiritualitas yang ditawarkannya, memberikan warna baru bagi kehidupan pada masa itu. Thomas dari Celano, otobiografernya, menulis bahwa “Dia selalu baru, selalu segar, dan selalu menginginkan kebaruan.”[ii]. Semangat kebaruan ini bersumber pada ketaatan yang mutlak pada kehendak Allah. Richard Rohr mengungkapkan bahwa Allah yang diimani Fransiskus adalah Allah yang tidak pernah lelah; Allah yang tidak menua, yang senantiasa berjiwa muda, dan itu yang membuat Fransiskus pun berjiwa muda, penuh sukacita dan kegembiraan.[iii]

Apakah kebaruan itu masih dapat kita temukan sekarang? Bukan tanpa alasan Paus Fransiskus memilih nama Fransiskus. Ia begitu mengagumi Sang Santo. Ketika mengantar orang untuk membaca Ensiklik Fratelli Tutti, Paus Fransiskus mengungkapkan bahwa St. Fransiskus adalah Santo yang tanpa batas, Santo kasih persaudaraan, kesederhanaan dan kegembiraan. “Santo Fransiskus mengungkapkan hakekat dari keterbukaan persaudaraan yang memungkinkan kita untuk mengakui, menghargai dan mencintai setiap pribadi, tanpa tergantung pada kedekatan fisik, tanpa memperhatikan di mana dia dilahirkan atau berada.”[iv] Nilai-nilai yang disebutkan itu adalah nilai yang selalu baru dan aktual dan senantiasa memberikan warna bagi kehidupan zaman sekarang.

Oleh karena itu, setiap orang beriman dan mereka yang ingin menimba spirit dari St. Fransiskus Assisi mesti memiliki gairah dalam hidup, dalam sukacita dan kegembiraan, serta ingin selalu mencari sesuatu yang baru dalam hidupnya. Atau, dalam bahasa Yesus, “Anggur baru dalam kantong kulit baru” (Mrk. 2:22).[v] Hanya orang yang bersukacita yang dapat terbuka (fleksibilitas) pertama-tama pada rahmat Allah dan juga pada setiap ‘kejutan’ dalam pelayanan. St. Fransiskus bersukacita ketika berjumpa dengan orang kusta….“apa yang dulu terasa menjijikan, kini bagiku menjadi kemanisan jiwa….”; bersukacita ketika tinggal di Rivo Torto bersama saudara-saudara walaupun dalam kekurangan; bersukacita ketika menyambut saudara yang pulang menjalankan misi; bersukacita jelang akhir hidupnya. Wajah Fransiskan adalah wajah penuh sukacita.

Diilhami sukacita St. Fransiskus Assisi karena menghidupi Injil, Paus Fransiskus juga mengajak setiap orang agar bersukacita:

“Sukacita Injil memenuhi hati dan hidup semua orang yang menjumpai Yesus. Mereka yang menerima tawaran penyelamatan-Nya dibebaskan dari dosa, penderitaan, kehampaan batin dan kesepian. Bersama Kristus sukacita senantiasa dilahirkan kembali. Dalam Seruan ini saya ingin mendorong umat Kristiani untuk mengawali bab baru evangelisasi yang ditandai oleh sukacita ini, seraya menunjukkan jalan-jalan baru bagi perjalanan Gereja di tahun-tahun mendatang.”[vi]

Sukacita merupakan sikap dasar beriman. Mengapa? Karena orang beriman telah menerima karunia Injil dan iman. Orang beriman hendaknya menghayati keindahan Injili dan memiliki kebanggaan iman akan Yesus Kristus, yang darinya telah dilimpahkan beragam kasih karunia. Menjadi seorang Fransiskan yang baik berarti menjadi seorang Kristen yang senantiasa bersukacita karena kehadiran Allah dalam diri sesamanya dan segenap ciptaan. Isn’t St. Francis’s joy one of the secrets of his appeal and popularity?

 

B. Masuk Gerbang: Fraternitas dan Minoritas

Santo Fransiskus Assisi memahami arti fraternitas dalam relasi Trinitas. Kita berasal dari Bapa yang sama dan kita semua bersaudara dengan Kristus sebagai yang Sulung (Kol. 1,15-18). “Yang sulung di antara banyak saudara, setelah kematian dan kebangkitan-Nya, melalui karunia Roh-Nya, Ia melembagakan persekutuan persaudaraan yang baru di antara semua orang yang menerimanya dengan iman dan amal: persekutuan ini diwujudkan dalam tubuh-Nya, yaitu Gereja.”[vii] Persekutuan ilahi, yang di dalamnya keselamatan berasal dan yang mendasari persaudaraan di antara kita adalah karunia dari Bapa, di dalam Kristus, di dalam Roh Kudus. Sangat kental dalam penghayatan St. Fransiskus Assisi bahwa dalam persekutuan/persaudaraan, misteri kasih Allah menjadi jelas, dalam kasih di antara saudara.

Kita dapat mencatat beberapa karakter dasar dari fraternitas.[viii] Pertama, kesetaraan (l’uguaglianza) karena kita semua adalah anak-anak Allah yang dicintai; kita semua sama dan semartabat. Lantas, tidak ada perbedaan antara yang satu dengan yang lain, yang kaya dan miskin, yang pintar dan bodoh, yang beruntung dan tidak beruntung. Kedua, relasional (la reciprocità), yang berarti bahwa ada relasi dan rasa memiliki (sense of belonging). Relasionalitas dan rasa memiliki itu terwujud dalam sikap saling membantu dan peduli atas kebutuhan sesamanya. Ketiga, kasih (l’amore), yang berarti  sebagaimana Allah mengasihi anak-Nya demikian juga kita saling mengasihi. Dan, keempat adalah belaskasihan (la misericordia). Rasa kasih akan terungkap ketika mau menjumpai mereka yang miskin dan terpinggirkan dengan penuh belaskasihan. La misericordia berarti merasakan apa yang dirasakan oleh mereka yang membutuhkan dan memberikan apa yang mereka butuhkan. Keempatnya saling terikat dan melengkapi. Dengan beberapa karakter dasar itualah kita dapat membangun sebuah komunitas yang bersaudara.

Makna minoritas tidak dapat dilepaskan dari makna inkarnasi, yakni Allah yang merendahkan diri, membuat diri-Nya menjadi ‘kecil’ dalam peristiwa Betlehem, Kalvari dan Ekaristi. Seluruh peristiwa hidup Yesus merupakan model keutamaan kedinaan, minoritas, yang sekaligus menampakkan misteri kasih Allah. St. Fransiskus merenungkan dan menepatinya dengan sungguh misteri inkarnasi ini serta mengajak para saudara untuk menghidupinya: “Tidak seorang pun boleh disebut ‘prior’, tetapi semuanya tanpa kecuali mesti disebut ‘saudara dina’, dan mereka harus saling membasuh kaki.”[ix] Di sini kita dapat memahami bahwa minoritas yang dianut oleh Fransiskus Assisi merupakan sebuah cara hidup yang tidak lain adalah kesaksian tentang Injil.

Dalam konteks sekarang, panggilan untuk menjadi minoritas merupakan panggilan kepada semua orang. In-carnare dapat juga berarti ‘mendarah-daging’ artinya menjadikan hidup semakin aktual. Nilai-nilai minoritas kefransiskanan terdapat dalam pengalaman keseharian, dalam pekerjaan-pekerjaan sederhana. Menjadi seorang Fransiskan terjadi dalam pengalaman hidup, bukan dalam gagasan-gagasan besar yang njlimet. Oleh karena itu, seseorang yang ingin meneladani Si Miskin dari Assisi dituntut agar dalam dirinya memiliki semangat ‘perendahan diri’. Ia harus berani melucuti diri sendiri, melepaskan segala bentuk egoisme dan segala model kebanggaan diri, hanya demi Allah. Demikian juga, ia harus berani menaklukkan diri sendiri agar tersedia ruang dalam dirinya bagi keutamaan-keutamaan Injili.

Memasuki sekolah kefransiskanan (spiritualitas) akan selalu melewati gerbang dengan dua pilar utama, yakni Fraternitas-Minoritas. Ajaran spiritual St. Fransiskus Assisi menuntut setiap orang untuk bersukacita, terutama karena Allah Mahakasih, juga karena telah tertanam dalam dirinya semangat kerendahan hati (minoritas), yang membuat dirinya dapat melayani dengan tulus dan penuh gairah, sekaligus semangat persaudaraan (fraternitas), yang memampukannya merangkul semua orang dan segenap ciptaan. Fraternitas dan minoritas ditemukan dalam pengalaman sehari-hari. Setiap orang dipanggil untuk memperlihatkan bahwa persaudaraan (fraternitas) dan kedinaan (minoritas) menawarkan suatu cara hidup alternatif, suatu cara hidup yang sah dan profetis kepada orang-orang zaman ini. Sebagai penegasan, fraternitas melindungi kita terhadap beberapa realitas hidup yang kejam, seperti kekerasan, ketidakpastian hidup, pengasingan, kesepian. Minoritas mengajak kita untuk hidup secara ugahari dan menemukan alasan-alasan yang benar bagi kebahagiaan, sebagai sesuatu yang berbeda dengan hal-hal yang dijajakan oleh konsumerisme.

 

C.   Merawat Sekolah Fraternitas-Minoritas

Setelah melewati gerbang sekolah, kita memasuki sekolah yang boleh disebut sebagai sekolah fraternitas-minoritas. Sekolah itu memiliki banyak kelas yang dapat diikuti. Setiap kelasnya menawarkan peelajaran yang berisi nilai-nilai kehidupan, yang dapat saja bersifat umum bagi semua orang, juga khas bagi setiap pengikut St. Fransiskus Assisi. Paus Fransiskus menegaskan bahwa Orang Miskin Kecil dari Asisi tetap menjadi misteri, bahkan sampai sekarang. Untuk menemukan jawaban atas misteri ini, ia berkata, “seseorang harus menempatkan dirinya di sekolah Poverello, menemukan dalam kehidupan injili jalan untuk mengikuti jejak Yesus.”[x] Dalam sekolah itu, kita, seperti halnya Santo Fransiskus, mendengarkan Yesus yang berbicara, merespons dengan murah hati, dan secara bertahap memahami apa yang diminta Tuhan dari-Nya, hingga kemudian melakukannya dengan penuh sukacita.

Kita dapat menyebut beberapa nilai yang diajarkan dalam sekolah fraternitas-minoritas ini.

 1. Pelajaran pertama, tentang keindahan perjumpaan.

“Dalam hal-hal yang indah, ia mengandung Keindahan itu sendiri,”  (St. Bonaventura)

Santo Fransiskus menghayati arti penting perjumpaan sebagai inti kehidupan rohani. Ia ingin sedapat mungkin menyadari Allah yang dekat dengan dirinya sambil berusaha mengikuti jejak Kristus.  Perjumpaan ini membuka matanya terhadap dunia di sekitarnya. Ada begitu banyak fresco-fresco indah dari perjumpaan dengan saudara lain. Memandang dan mendengarkan kepingan-kepingan pengalaman saudara lain menjadi kesempatan untuk bersyukur kepada Tuhan. Momen-momen ini dapat mengubah hidup kita. Perjumpaan-perjumpaan seperti Inilah yang oleh  Paus Fransiskus disebut sebagai “mistik hidup bersama”[xi]. Mistik persaudaraan” adalah sebuah keindahan yang dialami sehari-hari.

Dari perjumpaan inilah lahir nilai-nilai pengajaran berikutnya.

2. Pelajaran kedua, membaktikan pada keutuhan ciptaan: memandang semua ciptaan           sebagai saudara dan saudari

“Allah Yang Maha Tinggi, Maha Kuasa, Maha Baik, terpujilah Engkau, Tuhanku, bersama semua makhluk-Mu.” (Kidung  Segala Ciptaan)

Santo Fransiskus dari Assisi memiliki pemahaman relasional tentang ciptaan. Semua makhluk, dari yang terkecil hingga “Saudari kita, Ibu Pertiwi”, adalah saudara dan saudari, bagian dari keluarga Allah. Mengikuti semangatnya, Santo Bonaventura mengembangkan visi teologis dan spiritual yang mengakui bahwa semua ciptaan berasal dari kebaikan Tuhan, hadir sebagai “jejak kaki” Tuhan. Jika kita dapat “membaca” alam dengan benar, dengan peduli pada alam ciptaan dan sesama, maka kita sedang dituntun menuju Allah. Baginya, ciptaan sebagai kitab pertama yang ditulis oleh Allah. Karena itu, Fransiskus dinobatkan sebagai santo pelindung ekologi oleh Paus Yohanes Paulus II.

 3. Pelajaran ketiga, meluhurkan martabat pribadi manusia

“Inilah martabat kerajaan yang telah diambil oleh Tuhan Yesus ketika Ia menjadi miskin bagi kita, supaya Ia dapat memperkaya kita dengan kekurangan kita dan menjadikan kita benar-benar miskin dalam roh, sebagai ahli waris dan raja-raja di dalam Kerajaan Surga. Saya tidak ingin melepaskan martabat kerajaan ini.”[xii]

Meskipun semua ciptaan adalah “jejak kaki Allah”, tradisi fransiskan juga memahami bahwa manusia juga diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Manusia mewakili Allah yang Tritunggal secara khusus, dan oleh karena itu kita mencapai kepenuhan sebagai pribadi dalam relasi dengan Allah dan dalam komunitas, bukan dalam keterasingan individualisme. Rasa hormat terhadap sesama menjadi perhatian bagi setiap orang yang menyebut dirinya sebagai makluk ciptaan Allah.

 4. Pelajaran keempat, mengakui kesucian hidup dan berkomitmen pada etika hidup                 bersama.

“Hidupnya adalah sebuah petunjuk dan pelajaran bagi orang lain: dalam buku kehidupan ini beberapa orang belajar aturan hidup, dalam cermin kehidupan ini orang lain belajar untuk melihat jalan kehidupan.”[xiii]

Karena hidup adalah anugerah pertama yang diberikan Tuhan kepada kita, maka para Fransiskan sangat menghargai hidup manusia. Cara hidup St. Fransiskus yang berkeliling dan menyapa setiap orang sebagai saudara dan saudari meberikan contoh tentang bagaimana menghargai sesama. Ia berkeliling untuk berbuat baik dan membangun persaudaraan. Itulah kesempatan untuk memahami kerapuhan hidup dan untuk mendukung mereka yang paling rentan dalam masyarakat. Karena itu, panggilan bagi keluarga St. Fransiskus Assisi adalah berjuang dan memiliki semangat anti-kekerasan dan membangun persaudaraan berlandaskan cinta kasih.

 5. Pelajaran kelima, memberi kesaksian akan cinta yang tulus kepada kaum miskin dan       lemah.

“… Tuhan sendiri menuntun saya di antara mereka dan saya menunjukkan belas kasihan kepada mereka. Dan ketika aku meninggalkan mereka, apa yang tadinya terasa pahit bagiku berubah menjadi manis bagi jiwa dan ragaku. Dan setelah itu aku menunda sedikit dan meninggalkan dunia.”[xiv]

Bagi Fransiskus, kemiskinan tidak hanya berarti melayani orang miskin, tetapi juga menjadi miskin dan terhubung dengan mereka yang miskin dan terbuang. Pelayanan kepada dan identifikasi dengan orang miskin ini merupakan inti kehidupan Fransiskus. Di sana dan bersama mereka kita berjumpa dengan Kristus sebagai “Putera yang miskin dari Bunda yang miskin.” Anggota keluarga besar fransiskan saat ini dipanggil untuk bersama dan mengidentifikasikan diri dengan orang miskin dan rentan serta dengan semua orang yang menghadapi diskriminasi dalam berbagai bentuk. Kita dipanggil untuk bersolidaritas dengan mereka dalam perjuangan mereka agar hak-hak yang diberikan Tuhan dihormati oleh orang lain. Kita dipanggil untuk mengembangkan gaya hidup yang mendekatkan kita kepada orang miskin dan membuat kita peka terhadap mereka yang paling rentan.

 6.  Pelajaran keenam, menjadi pewarta perdamaian dan rekonsiliasi.

“Fransiskus berkeliling ke kota-kota dan desa-desa, mewartakan kerajaan Allah dan memberitakan damai sejahtera.”[xv]

Dalam Petuahnya, Fransiskus menjelaskan bahwa “mereka adalah pembawa damai sejati, yang terlepas dari penderitaan mereka di dunia ini, mereka memelihara kedamaian jiwa dan raga karena cinta akan Tuhan kita Yesus Kristus”[xvi] (#15). Sapaannya kepada semua orang, yang masih diulang-ulang oleh para fransiskan sampai sekarang, adalah “pax et bonum“, “damai dan segala yang baik”. Para Fransiskan dipanggil untuk membangun perdamaian dalam kehidupan pribadi dan masyarakat. Seperti disebutkan di atas, gaya hidup seperti itu melibatkan sikap anti-kekerasan.

  7.  Pelajaran ketujuh, membangun relasi yang penuh keadilan.

“Betapa bahagia dan terberkatilah mereka yang mengasihi Allah dan berbuat seperti dikatakan Tuhan sendiri dalam Injil: Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap budimu, serta kasihilah sesama manusia seperti dirimu sendiri.”[xvii]

Tradisi fransiskan menekankan pertemuan sejati antara keadilan dan cinta kasih. Fransiskan tidak berusaha mendomestikasi kata-kata kenabian dalam Injil, melainkan dipanggil untuk menghidupi visi hidup dan relasi yang diperbaharui berdasarkan keadilan. Seperti semua orang kristen, para fransiskan dipanggil untuk membaca tanda-tanda zaman, mengkritik penyalahgunaan kekuasaan, dan mengikuti etika yang didasarkan pada martabat yang tidak dapat diganggu gugat dari semua orang.

 8. Pelajaran kedelapan, mentransformasikan hidupnya dalam semangat pertobatan              dan  pembaruan dalam hidup.

“Menurut pendapatnya sendiri, ia tidak lain hanyalah seorang pendosa, meskipun sebenarnya ia adalah cermin dan kemegahan kekudusan. Seperti yang telah ia pelajari dari Kristus, ia berusaha untuk membangun dirinya sendiri di atas ini seperti seorang arsitek yang bijaksana yang sedang membangun sebuah fondasi.”[xviii]

Salah satu perkataan favorit Santo Fransiskus adalah, “Marilah kita mulai, karena sampai saat ini kita belum melakukan apa-apa.” Fransiskus melihat seluruh hidupnya sebagai suatu pertobatan yang terus menerus. Ia mengimani Allah sebagai Bapa yang penuh kasih. Fransiskus melihat hidupnya sebagai pertobatan yang terus menerus dari dosa menuju kehidupan yang dijalani dengan penuh rasa syukur atas kasih Allah. Kehidupan Fransiskan saat ini tetap merupakan kehidupan pertobatan yang berkelanjutan. Selalu ada kualitas yang belum selesai dalam pertobatan ini sampai kita masuk ke dalam Kerajaan Allah.

  9.  Pelajaran kesembilan, menjadi agen perubahan bagi semua orang.

“Ia bercahaya seperti bintang yang bersinar di kegelapan malam dan seperti pagi yang terbit di tengah kegelapan. Dengan demikian, dalam waktu singkat, penampilan seluruh wilayah itu berubah dan, setelah menyingkirkan keburukan sebelumnya, menampakkan ekspresi yang lebih bahagia di mana-mana.” (nn)

Fransiskus memulai pertobatannya di Gereja San Damiano saat ia mendengar salib menantangnya, “Fransiskus, perbaikilah rumahku, yang seperti yang kau lihat sudah mulai runtuh.” Sepanjang perjalanan hidupnya, ia menyadari bahwa “rumah” yang perlu diperbaiki adalah masyarakat dan Gereja kontemporernya sendiri. Saat ini para Fransiskan masih dipanggil untuk mewartakan Injil melalui teladan mereka, baik dalam masyarakat maupun dalam Gereja. Mengikuti teladan mereka yang telah mendahului kita, kita melaksanakan tugas ini dengan semangat pelayanan dan kerendahan hati, memberi “kesaksian dalam kata dan karya bahwa tidak ada yang maha kuasa selain Tuhan”.[xix]

D.  Akhirnya: Bergembiralah dan Bersukacitalah[xx]

Menutup pembelajaran kita dalam sekolah fraternitas-minoritas, baiklahh diumumkan bahwa semua pelajaran itu mengantar kita pada satu tujuan akhir, yakni kekudusan. Karena itu, bersukacitalah dan bergembiralah. Paus Fransiskus mengingatkan semua orang beriman bahwa Tuhan meminta segalanya dan Dia mengaruniakan kehidupan sejati, kebahagiaan yang untuknya kita diciptakan. Dia menghendaki kita kudus dan tidak mengharapkan kita puas diri dalam sikap tawar hati, suam-suam kuku, tidak konsisten[xxi]. Bagi Paus, kita semua dipanggil menuju kekudusan.

“Janganlah takut pada kekudusan. Kekudusan tidak akan mengambil daya, hidup dan kegembiraan Anda. Justru sebaliknya, Anda akan menjadi apa yang dikehendaki Bapa saat menciptakan Anda, dan Anda akan menjadi setia pada keberadaan Anda sendiri.”[xxii]

Panggilan kepada kekudusan yang Paus Fransiskus ajukan kembali dapat kita temukan dalam semangat minoritas Fransiskan , yakni menjadi kecil dan merangkul Allah yang menjadi kecil demi kita. Fransiskus, teladan kerendahan hati, ingin agar saudara-saudaranya disebut ‘orang yang lebih rendah’ dan para pemimpin ordo dipanggil dengan sebutan ‘hamba’, dengan demikian melestarikan kata-kata yang digunakan dalam Injil yang telah ia janjikan untuk ditaati. Pada saat yang sama, ia mengajak para pengikutnya untuk belajar pada sekolah kerendahan hati Kristus.

Menutup hal ini, saya mengutip apa yang disampaikan Paus Fransiskus ini:

“Saya senang melihat kekudusan yang ada dalam kesabaran umat Allah: dalam diri orangtua yang membesarkan anak-anaknya dengan kasih sayang yang sangat besar, dalam diri laki-laki dan perempuan yang bekerja keras untuk menafkahi keluarga mereka, dalam diri mereka yang sakit, dalam diri kaum religius lanjut usia yang tetap tersenyum. Di dalam kegigihan perjuangan mereka untuk terus maju hari demi hari, saya melihat kekudusan dari Gereja yang militan.… Marilah kita membiarkan disemangati oleh tanda-tanda kekudusan yang Tuhan tunjukkan kepada kita melalui mereka yang paling sederhana dari orang orang, yang “mengambil bagian juga dalam tugas kenabian Kristus, dengan menyebarluaskan kesaksian hidup tentangNya terutama melalui hidup.”

 

Endnotes: 

[i] 1 Cel 27

[ii] Thomas of Celano, “First Life of St. Francis,” in Marion Habig, O.F.M., ed., St. Francis of Assisi: Omnibus of Sources, Cincinnati: Franciscan Media, 2009, hal. 318, bdk. 1Cel 103

[iii] Richard Rohr, Eager to love : the alternative way of Francis of Assisi, Cincinnati: Franciscan Media, 2014, hal. 1-2

[iv] Paus Fransiskus, Ensiklik Fratelli Tutti tentang Persaudaraan dan Persahabatan Sosial (3 Oktober 2020), terj. Martin Harun OFM, Jakarta: Dokpen KWI, 2021, art. 1

[v] Gambaran ini memperlihatkan dengan jelas bahwa bentuk-bentuk institusional, religius, dan simbolis harus selalu memiliki fleksibilitas, terbuka pada setiap perubahan dalam dunia. Tentang harapan agar selalu ada kebaruan dalam hidup institusi, tarekat, atau pun serikat hidup religius, kita dapat membaca dokumen berikut: Kongregasi untuk Tarekat Hidup Bakti dan Serikat Hidup Kerasulan, Anggur Baru dalam Kantong Kulit Baru (6 Januari 2017), terj. Caroline Nugroho MC, Jakarta: Dokpen KWI, 2018.

[vi] Evangelii Gaudium, art. 1

[vii] Gaudium et Spes, art. 32

[viii] E. Galli, Fraternità, Cittadella Editrice, Assisi, 2020, pp. 76-81; cfr. Lazaro Iriarte, Vocazione Francescana. Sintesi degli ideali di San Francesco e di Santa Chiara, EDB, Bologna, 2006, p. 215-229.

[ix] AngTBul VI,3-4

[x] Lih. https://www.vaticannews.va/en/pope/news/2022-10/pope-jesus-is-source-of-st-francis-unique-holiness.html

[xi] Evangelii Gaudium, art 87

[xii] LegMay VII

[xiii] Dekrit Kepausan tentang Kanonisasi Santa Klara

[xiv] Was 1-2

[xv] 1Cel, 36

[xvi] Pth. XV

[xvii] 2SurBerim, 18

[xviii] LegMaj. bab VI

[xix] SurOr, 9

[xx] Pada bagian ini, saya mengambil dari Seruan Apostolik yang dikeluarkan Paus Fransiskus yang berjudul Gaudete et Exultate. Seruan ini ditujukan bagi semua orang yang dibaptis.  Sebuah dokumen yang dikeluarkan oleh Paus Fransiskus. Paus Fransiskus, Seruan Apostolik Gaudete et Exultate (19 Maret 2018), terj. T. Krispurwana Cahyadi SJ, Jakarta: Dokpen KWI, 2019

[xxi] Gaudete et Exultate, art. 1

[xxii] Gaudete et Exultate, art. 32

Kontributor: Sdr. Yoseph Selvinus Agut, OFM

Tinggalkan Komentar