Bergelut dalam Rentang Waktu Penuh Kairos menuju Keindonesiaan yang Damai dan Penuh Kasih

Tokoh Fransiskus Assisi menggendong Kanak-kanak Yesus dalam Teater “Dicurangi Waktu”.
Jakarta, OFM – “Kita menyaksikan saat ini dan sepanjang sejarah kehidupan manusia, Potret Dunia dengan wajah keterpecahan akibat berbagai bencana alam dan bencana kemanusiaan. Ada berbagai bentuk konflik, peperangan, penjarahan sumber-sumber alam secara tak terkendali, perdagangan manusia yang melecehkan martabat pribadi manusia yang luhur, kemiskinan dan peminggiran manusia. Semua realitas ini merenda dalam sejarah perjalanan umat manusia, sejarah perjalanan kita, yang menyatu dalam ruang batin kontemplasi Sang Pembawa Warta Sukacita,” ungkap Minister Provinsi St. Michael Malaikat Agung Indonesia, Sdr. Mikael Peruhe OFM, membuka pementasan teater yang berjudul Dicurangi Waktu di Ballroom Vincentius Putra, Kramat-Jakarta Pusat pada Sabtu (18/11/2023) malam.
Minister Provinsi menambahkan bahwa perutusan Sang Musafir dan Saudara Kelana, yang hidupnya terinspirasi oleh Il Poverello dari Assisi, menjejakkan kakinya di Bumi Nusantara yang bertabur tantangan dan sukacita. “Sang Musafir dan Kelana yang telah melepas segala-galanya mulai menabur kasih di bumi beragam budaya, agama, kepercayaan, suku, etnis, dan bahasa. Saudara Kelana yang Dina itu bergumul dalam tugas perutusan untuk menanam benih Persaudaraan di atas ladang kebhinnekaan dan merangkul semua orang untuk berjalan bersama dalam rentang waktu penuh kairos menuju ke-Indonesia-an yang damai dan penuh kasih,” tandasnya.

Pelatih sekaligus sutradara, Sdr. Anton Laba (kiri) bersama aktor termuda dalam tampilan ini, Efraim dari Komunitas Efata (tengah), dan Minister Provinsi, Sdr. Mikael Peruhe, OFM usai pemberian kenang-kenangan kepada Sdr. Anton.
Benih Persaudaraan yang ditaburkan inilah yang menginspirasi pementasan teater surealis, hasil permenungan dan kolaborasi seni yang ditampilkan oleh enam puluh tujuh (67) pemain di antaranya para Saudara Muda OFM Indonesia bekerja sama dengan Panti Asuhan Vincentius Putra-Jakarta, Panti Asuhan St. Yusup-Sindanglaya, dan Orang Muda Katolik dari Paroki Fransiskan yaitu Paroki Cempaka Putih, Paroki Kramat, dan Paroki Depok, juga anggota Komunitas Efata. Teater surealis yang dimaksudkan agar pesan teater tidak langsung disuguhkan kepada penonton, tetapi penonton diajak untuk membaca pesan dan maksud itu dari gerak tubuh para pemain bersama paduan alunan musik disutradarai oleh Anton Laba ini sukses membius sekitar empat ratus (400) penonton yang hadir.
“Saya terkesan dengan pementasan tadi dan puas karena menampilkan berbagai kisah yang terjadi. Saya juga kagum karena elobarasi yang bagus, termasuk lagu-lagu yang dinyanyikan dan penyanyi-penyanyinya hebat. Suara mereka keren-keren,” ungkap Ibu Agatha Budi Astuti, salah satu penonton yang hadir menyaksikan pementasan ini.
Teater surealis yang memadukan antara gerak, puisi, musik, dan nyanyian menarik ini sebagai salah satu kegiatan syukur untuk memaknai empat puluh (40) tahun Persaudaraan Saudara Dina menjadi Provinsi Indonesia, sekaligus perayaan syukur delapan ratus (800) tahun Anggaran Dasar dengan Bulla (AngBul) dan delapan ratus (800) tahun Peristiwa Natal di Greccio. Pementasan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan doa bersama yang dipimpin oleh Sdr. Mateus Batubara OFM. Usai pementasan teater yang berdurasi sekitar sembilan puluh (90) menit, Persaudaraan OFM Provinsi St. Michael Malaikat Agung Indonesia yang diwakili oleh Minister Provinsi, Sdr. Mikael Peruhe OFM, bersama Sdr. Agustinus Nggame OFM dan Sdr. Peter Beto OFM, memberikan apresiasi kepada para wakil pementas. Apresiasi itu berupa plakat penghargaan dan karangan bunga.
“Saya berharap para Saudara Muda dapat mengembangkan kembali bakatnya dalam teater di hari-hari yang mendatang dan tentunya dalam kerja sama dengan OMK-OMK dari Paroki serta tim-tim lainnya,” demikian harapan Sdr. Peter Beto OFM, koordinator Pementasan Teater.***

Kontributor: Sdr. Jemianus Hend. Rance Tnomat, OFM

Tinggalkan Komentar