Jakarta, OFM – Pada Selasa (28/12/2023) sore, di Ballroom Vincentius Putra, Kramat, Panitia Perayaan Ordo, mengadakan Seminar dan Launching Buku. Minister Provinsi OFM Indonesia, Sdr. Mikael Peruhe OFM, membuka seluruh kegiatan Seminar dan Launching Buku dengan mengatakan: “Peristiwa malam hari ini menjadi salah satu momen bagi perjalanan para Saudara Dina karena mencoba menelisik bersama bagaimana kehadiran para Saudara Dina di Bumi Nusantara ini. Bahkan, menarik bahwa pada momen ini, Provinsial Serikat Jesus Indonesia hadir dan menjadi salah satu narasumber, sekaligus membawa kita semua pada lembaran sejarah kehadiran OFM di Indonesia atas undangan para Saudara Jesuit pada 1929 yang lalu.” Ia menambahkan: “Kembali ke semangat asali sekaligus berarti kembali melihat tapak sejarah yang telah dilalui selama ini dan menimba spirit baru untuk perjalanan dan karya selanjutnya.”

Seminar yang melibatkan anggota Keluarga Fransiskan di Keuskupan Agung Jakarta dan Keuskupan Bogor ini terbingkai dalam tema “Kembali ke Semangat Asali: Menginkarnasikan Injil dalam Hidup dan Karya Fransiskan” dengan dua narasumber, Prof. Dr. Antonius Eddy Kristiyanto, OFM (Guru Besar Sejarah Gereja Sekolah Tinggi Filsafat Driyakarta, Jakarta) dan Dr. Benedictus Hari Juliawan, SJ (Provinsial Serikat Jesus Indonesia dan Dosen Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta).

Buku-buku khas Fransiskan dipamerkan serta dijual di Vitra Ballroom, Kramat.

Sebelum Seminar dilangsungkan, Sdr. Agustinus L. Nggame OFM, mempromosikan buku “Revitalisasi Hidup Fransiskan” yang merupakan sebuah bunga rampai. Para Saudara Dina berpartisipasi dalam penulisan buku ini dan membahas tema-tema seperti spiritualitas, sejarah, filsafat, teologi, pendidikan, pastoral, dan moral. Sdr. Gusti, OFM, selaku Ketua Panitia Perayaan dan editor buku yang diterbitkan oleh OBOR tersebut, menerangkan bahwa maksud penulisan buku ini adalah untuk merefleksikan bersama-sama 40 tahun Provinsi St. Michael Malaikat Agung Indonesia, 800 tahun Anggaran Dasar dengan Bulla (AngBul), dan 800 tahun Peristiwa Natal di Greccio.

Dalam seminari yang dimoderatori oleh Sdr. Frumensius Gions, OFM ini, Rm. Benedictus Hari Juliawan SJ, mengemukakan bahwa masyarakat dewasa ini berhadapan dengan aneka tantangan. “Ada lima fenomena yang kita hadapan sekarang, yaitu ketimpangan sosial, kemajuan digital dengan modus baru online platform dan relasi kerja baru partnership, tantangan 3P (populisme, polarisasi, dan post-truth), relasi agama dan negara di mana terdapat manipulasi agama oleh elite politik demi kepentingan elektoral dan akumulasi modal, dan krisis ekologi,” ungkap imam yang meraih gelar doktor dalam bidang Studi Pembangunan dari Oxford University pada 2010. Tantangan tersebut tidak jarang mengaburkan batas antara yang baik dan yang benar, antara yang nyata dan yang kurang nyata. Oleh karena itu, menurutnya, Paus Fransiskus, dalam enlsiklik Laudato Si’ dan Fratelli Tutti, mengungkapkan secara gamblang akar persoalan yang terjadi di tengah dunia saat ini dan gagasan tentang hidup bersama secara komunitas dimengerti juga secara sempit.

Sdr. Gusti, OFM membagikan buku “Revitalisasi Hidup Fransiskan” sebagai kenang-kenangan kepada para narasumber dan moderatot

Sementara itu, Sdr. Eddy Kristiyanto, OFM mengajak peserta seminar untuk mendalami apa isi dari semangat asali dan bagaimana jalan-jalan untuk kembali ke semangat itu diusahakan. Mengutip Paul Sabatier dan Ernest Renan yang berpandangan tentang gerakan religius mengagumkan yang dilakukan oleh Santo Fransiskus,  penulis buku “Sakramen Politik: Mempertanggungjawabkan Memoria” ini menuturkan, “nilai-nilai dalam semangat asali diselamatkan oleh tindakan personal yang terbatas hanya oleh Fransiskus Assisi yang einmalig, anak zamannya, memiliki karisma dan spiritualitas pribadi, dan oleh gerakan bersama (yang multitafsir, lamban, mengandung pemicu geseken jika tidak mahir dalam manajemen konflik, aneh-aneh, tidak dapat diseragamkan demi prinsip kebebasan hak dan tanggung jawab anak-anak Allah), dan lain sebagainya.” Oleh karena itu, menurut imam kelahiran Sleman 5 Juli 1958 ini, kembali ke semangat asali berarti: “kita mau mengakarkan kembali pada apa yang membuat jati diri kita dibarui, yakni jika kita mengetahui, menyadari, meyakini, dan mempribadikan inti diri kita. Kita diinspirasi untuk mengenali diri (gnothi seauton), menyadari asal-usul, mengenal kekuatan dan kerapuhan diri, supaya kita tidak lupa diri, melainkan tahu diri – tahu kembali dan pulang ke rumah sendiri. Seluruh gerak asali ini sangat diwarnai dan dijiwai oleh sumber utama, yakni keyakinan iman di dalam Gereja Kristus.”

Kontributor: Sdr. Jemianus Hend. Rance Tnomat, OFM

Tinggalkan Komentar