Masa Adven: Momen Tepat Membarui Hati

 Masa Adven sebagai penantian akan kedatangan Putera Allah ke tengah dunia (Natal) dimaknai sebagai masa persiapan. Melalui tulisan refleksi ini, Sdr. Gusti Nggame OFM mengajak para pembaca, terutama pengikut Kristus, untuk mempersiapkan sekaligus membarui aspek paling penting dalam hidup manusia, yakni hati. Beliau menawarkan perspektif yang khas: bertolak dari Injil sembari mengaitkannya dengan khazanah spritualitas Fransiskan dan dokumen terbaru dari Paus Fransiskus, Dilexit Nos. Mengapa? Karena hati adalah pusat dari seluruh diri manusia.

 

(Foto: OSV News photo/Nancy Wiechec)

 

Kita berada di masa adven. Suatu rentang waktu liturgis yang ditetapkan Gereja Katolik guna mengingatkan segenap anggotanya akan kedatangan Tuhan. Ajaran iman Gereja Katolik meyakini bahwa Kristus yang dulu datang ke dunia, sekarang sedang datang dan akan datang di akhir zaman. Ia adalah Imanuel, Allah yang selalu menyertai kita.

Dua ribu tahun silam, ketika Yohanes Pembaptis mengumumkan kedatangan Tuhan, orang-orang bertanya kepadanya, “apa yang harus kami lakukan?” Pertanyaan yang sama bisa kita lontarkan kepada diri kita sendiri. Apa yang harus kita lakukan agar bisa melihat, merasakan, dan mengalami kehadiran Tuhan dalam hidup kita?

Karya klasik berjudul The Little Prince bisa menuntun pada jawaban yang bijak dan mendalam. Pada salah satu bagian dari novel ini kita bisa menemukan petikan kata-kata berikut: “here is my secret, a very simple secret; it is only with the heart that one can see rightly, what is essential is invisible to the eye”. Kutipan singkat ini menyingkapkan peran sentral hati dalam hidup manusia. Hati yang murni dan terjaga dengan baik memampukan orang untuk melihat dengan jelas apa yang paling pokok dalam hidupnya.

Kutipan ini bisa kita terapkan dalam masa adven ini. Dalam Sabda Bahagia, Yesus mengatakan: “berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Mat. 5:8). Di sini, Yesus menguraikan kondisi yang harus dipenuhi agar bisa mengalami kehadiran Tuhan. Kondisi utama agar bisa menemukan Tuhan adalah hati yang suci. Tuhan hanya bisa dialami oleh mereka yang tahu menata dan membarui hati secara terus menerus.

Penekanan hati sebagai kunci mengalami kehadiran Tuhan juga bisa kita temukan dalam kisah perjalanan dua murid ke Emaus. Keduanya berjalan bersama Tuhan. Tetapi, seperti yang dilukiskan dalam injil Lukas, “ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia” (Luk. 24:16). Apa yang membuat mereka tidak mampu mengenal Tuhan? Dalam teguran Yesus kita menemukan jawabannya. Kepada kedua murid itu Ia mengatakan “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi!” (Luk. 24:25). Inilah akar dari kebutaan mereka: hati mereka bodoh dan lamban. Ketika hati menjadi bodoh dan lamban, segala sesuatu tidak dapat dilihat. Segala sesuatunya tampak berkabut.

Sampai di sini kita mungkin bertanya, apa itu hati? Paus Fransiskus, melalui Ensiklik Dilexit nos (DN), bisa membantu kita menjawab pertanyaan ini.  Mengacu pada alam pemikiran Yunani kuno dan tradisi Kitab Suci, Paus mendefinisikan hati sebagai pusat dari seluruh diri manusia; sesuatu yang mendefinisikan manusia sebagai manusia. (DN 3-4). Hati adalah inti yang sering kali tersembunyi di balik penampilan luar dan pikiran-pikiran dangkal yang menyesatkan (DN 4).

Lebih lanjut Paus menggambarkan hati sebagai rumahnya ketulusan, di mana tipu daya dan penyamaran tidak memiliki tempat. Hati biasanya menunjukkan niat kita yang sebenarnya, “rahasia” yang tidak kita beritahukan kepada siapapun. Dengan kata lain, hati adalah kebenaran yang telanjang tentang diri kita sendiri (DN 5); hakim tertinggi tentang siapa diri kita yang sebenarnya (DN 6).

Paus mendorong kita untuk tidak menyepelekan hati. Menyepelekan hati sama halnya dengan mengabaikan potensi-potensi besar yang hanya bisa diproduksi oleh hati (DN 11). Selain itu, menyepelekan hati juga berimbas pada rusaknya keseimbangan dunia. Paus mengacu pada Gaudium et Spes yang menjelaskan bahwa “ketidakseimbangan yang melanda dunia dewasa ini berhubungan dengan ketidakseimbangan lebih mendasar, yang berakar dalam hati manusia” (GS 10).

Mengingat hati memiliki peran sentral bagi hidup dan peradaban manusia, maka ada tuntutan untuk kembali ke hati dan memurnikan hati. Hati yang murni adalah hasil dari sebuah proses yang menyiratkan pembebasan dan pelepasan. Mereka yang murni hatinya telah mengalami sebuah penyederhanaan batin dengan belajar untuk meninggalkan kuasa-kuasa kejahatan di dalam diri. Itulah yang Kitab Suci sebut sebagai “penyunatan hati” (Ul. 10:16; 30:6; Kel. 44:9; Yer. 4:4). Orang yang hatinya murni hidup di hadirat Tuhan, memelihara di dalam hati apa yang layak untuk hubungan dengan-Nya.

Dalam Injil, Yesus amat menekankan kemurnian hati. Dia menolak konsep tertentu yang terlalu mementingkan kemurnian ritual. Ia mengkritisi praktik-praktik lahiriah yang melarang perjumpaan atau bahkan persinggungan dengan orang-orang dan benda-benda yang dianggap najis. Kepada orang-orang Farisi yang menegur para murid karena makan tanpa terlebih dahulu membasuh tangan, Yesus menegaskan, “Apapun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya. Sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang” (Mrk. 7:15, 21-22).

St. Fransiskus Assisi juga menaruh perhatian pada kemurnian hati. Baginya, hati adalah kediaman roh atau energi yang memengaruhi sikap setiap individu. Mengikuti Santo Paulus, Fransiskus mempertentangkan pekerjaan-pekerjaan daging dan pekerjaan-pekerjaan roh (AngTBul XVII:9-16). Ia percaya bahwa setiap manusia pada dasarnya baik, diciptakan serupa dengan Allah. Namun, daging itu lemah, musuh sekaligus penipu. Untuk mengatasi roh kedagingan, ia menasihati para saudara untuk memiliki di atas segala-galanya Roh Tuhan dan segala tindakan suci-Nya.

Masa adven mengingatkan kita perihal pentingnya pembaruan hati. Dalam konteks hidup kristiani, pembaruan hati dimaksudkan agar kita semakin mampu “menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Flp. 2: 5). Dengan kata lain, pembaruan hati bertujuan agar Kristus sungguh tertanam di dalam hati kita sehingga kita bisa berpikir, menilai dan bernalar seperti Kristus. Dalam hal ini, pembaruan hati memampukan kita untuk berpartisipasi dalam kehidupan Sang Putra dan dengan demikian mampu menghadirkan kembali kehidupan-Nya di dunia.

Proses pembaruan hati perlu dimulai dengan kesadaran yang jujur akan kerapuhan kita sebagai manusia. Hati manusia, seperti yang dijelaskan Paus Fransiskus, “lemah dan terluka” (DN 30). Karena itu, tidak cukup hanya mengandalkan hati kita sendiri. Kita membutuhkan pertolongan Tuhan. Kita perlu berpaling kepada Hati Kudus Yesus yang merupakan “tanda dan simbol alami dari kasih yang tak terbatas” (DN 48). Semakin kita mengkontemplasikan kehidupan Kristus, semakin hati kita juga dikuasai oleh kasih-Nya.

Gambaran yang sangat eksplisit tentang hal ini bisa kita temukan dalam kisah Zakheus. Yesus menawarkan diri untuk menumpang di rumah Zakheus: “Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu” (Luk.19:5). Zakheus membuka pintu dan membiarkan Yesus menumpang di rumahnya. Peristiwa yang terjadi selanjutnya sangat menakjubkan. Zakheus mengalami transformasi. Dengan lantang ia berseru: “setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas  dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat” (Luk.19:8).

Kehadiran Yesus di rumah Zakheus membuatnya berubah, dari pribadi yang egois menjadi pribadi yang peduli kepada nasib sesama.  Hal yang sama juga bisa terjadi pada kita. Cinta diri berlebihan yang terwujud dalam narsisme dan egoisme membuat kita menjadi pribadi yang “tidak punya hati,” terkungkung dalam tembok yang kita buat sendiri; tidak lagi mampu menjalin hubungan yang sehat. dengan orang lain (DN 17). Agar dapat terbebas dari jerat cinta diri, kita perlu membiarkan Tuhan masuk ke kedalaman hati kita. Bersama Dia kita bisa mengalami transformasi: dari cinta diri yang berlebihan menuju pribadi yang dikuasai kasih.

Ketika seseorang dikuasai kasih, ia menjadi manusia yang sesungguhnya. Kasih menjadi kriteria utama yang menentukan kualitas seseorang sebagai manusia. Tentang hal ini, Paus Fransiskus secara gamblang menguraikan, “segala sesuatu menemukan kesatuannya di dalam hati, yang  dapat menjadi tempat tinggal kasih dalam semua dimensi spiritual, psikis, dan bahkan fisik. Dengan kata lain, jika kasih memerintah dalam hati kita, kita menjadi manusia yang seharusnya, karena setiap manusia diciptakan di atas segalanya untuk kasih. Dalam sanubari yang terdalam, kita diciptakan untuk mengasihi dan dikasihi (DN 21; bdk. Fratelli Tutti 92).

 

Kontributor; Sdr. Gusti Nggame OFM

Tinggalkan Komentar